FAMILY TIME

BERKUNJUNG KE PAMERAN WARNA-WARNA

Saya tertarik sekali untuk datang ke Pameran Warna-Warna di dia.lo.gue ketika Andien mengirimkan undangan ke grup Whatsapp AVENU Creators. Sebuah pameran seni rupa yang menampilkan karya anak-anak berkebutuhan khusus dari Art Therapy Center Widyatama yang mereka ciptakan sebagai respon terhadap lagu Warna-Warna Andien. Sempat sedih saat saya kira saya kelewatan pameran ini, tapi ternyata memang sudah jodoh untuk datang ke sini karena pamerannya diperpanjang. Tadinya dari 28 Agustus sampai 9 September, menjadi sampai 16 September, sehingga akhirnya saya sempat berkunjung. Jadi, saya juga dapat berbagi dengan kalian yang tidak sempat ke sana tentang pengalaman saya mengunjungi Pameran Warna-Warna. Pameran ini banyak memberikan saya inspirasi, bahwa dengan segala keterbatasan, kita harus tetap bisa berkarya. Dan perbedaan ‘warna’ di dunia, dapat menjadi sesuatu yang indah jika kita dapat saling menerima dengan damai.

Snow di depan instalasi interaktif  Tree of Hope   oleh Ogi dari Larch Studio . Pada secarik kertas di kiri bawah, tertulis: Silahkan ambil benang ini. Ikatkan pada ranting yang ada. Mari kita lanjut harapan hari ini, untuk impian hari esok.

Snow di depan instalasi interaktif Tree of Hope oleh Ogi dari Larch Studio. Pada secarik kertas di kiri bawah, tertulis: Silahkan ambil benang ini. Ikatkan pada ranting yang ada. Mari kita lanjut harapan hari ini, untuk impian hari esok.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Instalasi Tree of Hope ini terbuat dari ranting-ranting kayu di pinggir jalan raya dan gulungan benang sisa pabrik karpet. Memiliki pesan yang indah sekali, yaitu bagaimana sesuatu yang dipandang “terbuang” dan “tidak berguna” ternyata bisa menjadi cantik dan memiliki nilainya tersendiri. Bagi setiap orang arti instalasi ini dapat berbeda, tergantung dari perspektif masing-masing. Saya sendiri mengartikannya seperti ini: manusia ibarat gulungan benang yang berbeda-beda warna, benang warna-warni yang terjalin pada ranting menciptakan keindahan, seperti halnya manusia jika dapat saling bekerjasama meskipun memiliki jalan pikiran yang berbeda.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Mengunjungi pameran seni selalu membuat saya merasakan sesuatu. Menggelitik jiwa. Mencoba membayangkan apa yang dirasakan orang ketika menciptakan karyanya. Mencari arti tersendiri di balik karya tersebut yang dapat bermanfaat untuk saya. Ngomong-ngomong mengenai pencipta karya, yang ditampilkan di pameran adalah karya: Dwi Andini Ma’ruf, Adryan Adinugraha, Akbar Alliya, Ahmad Taufan, Nazario Prianggara Kurniawan, Angkasa Nasrullah Emir, Faiz Muhammad, Hillary Salsabila Sulton, Abiyan Zahran Faizal, Ariq Rabbani, Ghany Aziz, Mulyo Rahardjo, M. Nouval Radian dan M. Ihsan Nabil Budi. Semua merupakan murid di Art Therapy Center Widyatama yang berkebutuhan khusus. Ada yang mengalami autisme, gangguan sistem metabolisme yang dikarenakan cedera otak, kelainan saraf pada otak, dan sebagainya.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Waktu saya kecil, ayah saya sering mengajak saya dan kakak melihat pameran seni. Jadi waktu saya berencana berkunjung ke Pameran Warna-Warna, saya sengaja mengajak Snow, Mono, dan kedua orangtua saya untuk semacam nostalgia dengan mereka akan masa kecil saya. Kebetulan Snow juga lagi senang menggambar dan melukis, jadi menurut saya datang ke pameran seperti ini dapat membuatnya lebih semangat lagi melakukan kegiatan tersebut.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Sepertinya ayah saya senang berkunjung ke pameran ini, karena ia sibuk melihat-lihat karya, memotret, dan saat kami ajak pulang, ia justru masih ingin berlama-lama di sana. Kami sekeluarga menghabiskan waktu yang menyenangkan di dia.lo.gue. Nggak hanya karena ada Pameran Warna-Warna, tapi juga karena kami sempat makan siang di sana dan makanan di dia.lo.gue itu enak-enak sekali! Hari itu merupakan hari Sabtu yang sangat seru bagi saya dan keluarga.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

SINGAPORE DAY 1: CHANGI - YORK HOTEL - MARINA BAY SANDS

Akhir pekan kemarin menyenangkan sekali! Kami sekeluarga besar liburan ke Singapura dengan tujuan utama bawa bocah-bocah alias Snow dan sepupunya, Asa ke Universal Studios Singapore.

Selama sebulan sebelum keberangkatan, hampir setiap hari Snow dan Asa menunjukkan ketidaksabaran mereka. Ada saja tingkah laku Snow, mulai dari berniat tidur di kamar tantenya dengan alasan, "Supaya bangun-bangun langsung di hari kita berangkat ke Singapura!" atau pas dibangunkan untuk mandi sebelum ke sekolah ia malah bertanya, "Kita ke Singapura hari ini, kan?" Hahaha! Saya sampai geleng-geleng kepala. Semuanya karena ia diperlihatkan foto Universal Studios Singapore ketika dijelaskan ke mana tujuan liburan kami.

Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, datang juga hari keberangkatan kami ke Singapura. Di Sabtu pagi, kami jalan ke bandara Soekarno-Hatta jam 6.30 untuk naik pesawat jam 8.00. Kami bersembilan berangkat naik 3 taksi Bluebird yang sudah dipesan sejak malam hari, sedangkan untuk pesawatnya kami memilih Lion Air. Sempat ragu pas dengar cerita-cerita penumpang pesawat Lion Air penerbangan domestik yang bagasinya dibongkar, tapi untungnya hal tersebut nggak terjadi pada kami.

P1210194.jpg
Singapore_Day_1_Marina_Bay_Sands_York_Hotel.jpg

Kami tiba di Singapura sekitar jam 11 siang, lalu makan siang sebentar di McDonald's di Changi Airport sebelum kemudian naik taksi ke York Hotel tempat kami menginap selama 3 hari 2 malam. Untuk 9 orang, kami menyewa 2 Superior Room (1 dengan Queen Bed, 1 dengan 2 Twin Beds) dan 1 Deluxe Family Room (dengan 1 Queen Bed dan 2 Twin Beds). Kalau kalian mau lihat seperti apa kamar-kamarnya bisa cek di situsnya di sini. Menurut saya York Hotel ini nyaman sekali. Kamarnya sesuai dengan yang ditampilkan di situs, interior hotelnya nyaman di mata, menu sarapannya enak dan setiap hari ada yang berbeda, koneksi Wi-Fi lancar, dan karyawannya ramah-ramah serta sangat membantu. Selama menginap di sini, kami sama sekali tidak mengalami masalah apa pun. Kalau mau reservasi kamar, York Hotel sudah terdaftar di berbagai situs seperti Traveloka ataupun tiket.com.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Kami nggak berlama-lama di hotel, hanya check in, meletakkan koper-koper dan leyeh-leyeh sebentar. Setelah itu, kami mulai jalan-jalan, deh! Tujuan di hari pertama adalah ke Marina Bay Sands. Dari York Hotel, kami jalan kaki menuju Paragon Shopping Centre Orchard kemudian ke 313 Somerset untuk naik MRT dari sana. Dari Somerset ke Marina Bay Sands, biaya MRT-nya adalah 2 dolar Singapura per orang dengan waktu perjalanan sekitar 15 menit. Selama ini Snow selalu ingin naik kereta, ternyata akhirnya ia kesampaian naik MRT di Singapura. Anaknya senang banget!

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Sampai di Marina Bay Sands, yang pertama kali kami lakukan adalah Sampan Rides. Hahaha! Sebenarnya ini kegiatan lucu-lucuan untuk menghibur Snow dan Asa saja. Kalau biasanya ke mal di Jakarta mereka suka naik kereta mainan, di Marina Bay Sands mereka bisa naik sampan. Nggak semua anggota keluarga ikutan naik, saya dan adik ipar saya, Ninis (yang sudah berangkat duluan ke Singpura dan janjian dengan kami di sana) hanya menemani bocah-bocah. Untuk naik sampan ini biayanya 10 dolar Singapura per orang. Menurut saya mahal sih, tapi sekali saja untuk menghibur anak-anak tidak apa-apa.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Setelah naik perahu kami makan di food court Marina Bay Sands yang pilihan makanannya banyak banget dan enak-enak! Bawa 10 dolar Singapura per orang sudah dapat porsi makanan yang super mengenyangkan. Sayang saya lupa foto food court ataupun makanannya karena sudah kelaparan. Hahaha! Nah, di depan food court ada atraksi Digital Light Canvas. Walaupun untuk orang dewasa atraksi ini akan terlihat biasa saja, yang menghibur bagi saya adalah reaksi Snow ketika ia berlari-lari di atas lantai yang berupa layar digital yang menampilkan ikan-ikan yang bergerak sesuai langkah kaki di atas layar tersebut. Untuk menikmati atraksi ini, biayanya adalah 5 dolar Singapura per orang.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Setelah semua kenyang, puas cuci mata dan belanja (kalau mau tahu daftar brand yang ada tokonya di Marina Bay Sands lihat di sini), kami duduk-duduk di area outdoor Marina Bay Sands untuk menikmati pemandangan sekitar dan udara segar. Sore itu ramai sekali di area outdoor tersebut, karena sedang ada latihan perayaan hari kemerdekaan Singapura untuk tanggal 9 Agustus. Kalau kalian lihat baik-baik, di foto di bawah ini, terlihat titik-titik merah putih di bagian kanan itu sebenarnya adalah kumpulan orang-orang yang turut serta meramaikan latihan perayaan kemerdekaan. Banyak banget, kan? Sudah berjejer pula orang dengan kamera dan tripod untuk menangkap momen latihan tersebut yang dimeriahkan dengan pertunjukan pesawat jet, helikopter, tank serta kembang api.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Ketika beberapa tank menembak ke udara dan pesawat-pesawat jet beterbangan, Snow sempat terkejut mendengar bunyinya dan kemudian menangis. Kasihan tapi gemas juga lihatnya! Hihihi...

Dari Marina Bay Sands, kami memutuskan untuk pulang kembali ke York Hotel naik MRT lagi. Kami sengaja pulang lebih cepat karena ingin menyimpan energi untuk keesokannya ke Universal Studios Singapore.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Marina_Bay_Sands_York_Hotel_Changi.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Sebenarnya di Marina Bay Sands masih banyak sekali hiburan yang bisa dieksplorasi, ada SkyPark dengan kolam renang tanpa batas, Spectra yang merupakan pertunjukkan air mancur dan lampu, Sands Theater dengan pertunjukan pentas ala Broadway, dan ada ArtScience Museum. Kalau kalian ingin tahu lengkapnya apa saja yang dapat dieksplor di Marina Bay Sands dan biayanya berapa, bisa cek di siniAnyway, ada pilihan lain juga kalau kalian malas ke Marina Bay Sands yang suasananya seperti mal atau hotel dan lebih ingin main-main di tempat yang hijau-hijau alias taman. Kalian bisa ke Singapore Botanic Gardens dan di sana ada tempat bermain untuk anak yang namanya Jacob Ballas Children's Garden yang direkomendasikan oleh teman saya Glenn Prasetya. Saya sendiri dulu pernah ke Singapore Botanic Gardens tapi belum pernah ke Jacob Ballas Children's Garden tersebut, makanya tertarik juga untuk ke sana kalau kembali ke Singapura dengan Mono dan Snow.

Apakah kalian sudah pernah mengunjungi semua tempat ini? Berbagi cerita tentang pengalaman kalian di sini, dong! Pasti akan membantu teman-teman yang mencari informasi tempat wisata di Singapura.

LATE LUNCH WITH LA FAMIGLIA AT BLOOM, HOTEL MONOPOLI

Whoop whoop! Setelah satu minggu akhirnya sempat update blog lagi. Tapi kali ini mau throwback ke momen makan siang bareng keluarga hampir tiga minggu yang lalu. Senang karena waktu itu sempat coba makan di tempat baru yaitu Bloom di Hotel Monopoli yang lagi hits itu. Nggak heran kenapa hits, soalnya suasana di Bloom memang menyenangkan, dengan jendela-jendela besar yang mengundang banyak cahaya natural masuk ke dalam, interiornya yang terasa artsy berkat lukisan-lukisan multiwarna yang terpasang di dinding, furnitur bernuansa vintage dan bagian atap yang dibiarkan mengekspos saluran udara serta pipa-pipa yang menghasilkan kesan industrial. Saya pun dibikin naksir sama kursi-kursinya dan berbagai tanaman maupun bunga kering yang dipajang di sana. Tapi sebuah restoran nggak lengkap tanpa makanan enak. Nah, menu yang tersedia di sini cukup banyak pilihannya, termasuk yang sehat! Berikut saya berbagi foto-foto suasana Bloom, serta makanan yang sempat kami coba di sana.

Sunday_Brunch_Hotel_Monopoli_Bloom.jpg
Sunday_Brunch_Hotel_Monopoli_Bloom.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
111.jpg
Sunday_Brunch_Hotel_Monopoli_Bloom.jpg

Pertama kali masuk restoran ini, saya langsung jatuh cinta sama instalasi bunga berwarna merah dan pink yang merambat pada lampu merah ini. Cantik banget! Lalu saya suka dengan jendela-jendelan besarnya yang di siang hari dibuka lebar-lebar. Jadi terasa semilir angin sejuk dari luar masuk ke dalam, mengiringi cahaya natural yang menerangi interior Bloom. Kemudian, lukisan-lukisan yang terpajang di dinding mengingatkan saya sama corat-coret Snow kalau lagi gambar. Hihihi, warnanya seru banget!

Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Sunday_Brunch_Hotel_Monopoli_Bloom.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
9.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg

What delicious food did we eat that day? Terlihat secara berurutan dalam foto berikut, yaitu Pan-Seared Salmon yang disajikan dengan tare, kimchi quinoa, dan poached egg (sehat dan enak banget!), Dry Ramen dengan mie yang terbuat dari telur segar dilengkapi chicken teriyakicrispy skin dan onsen egg, kemudian Angus Sirloin 200gram dengan grilled chayote dan saus chimmichurri yang menurut saya kurang mengenyangkan (saya orangnya suka makanan porsi besar), lalu Kale Salad disajikan bersama seaweed, charred corn, tofu crouton, dan roasted sesame yang rasanya aman-aman saja sebagai salad, serta terakhir adalah makanan penutup berupa Baked Hot Chocolate dengan salted carameltoasted hazelnut ice cream dan white chocolate crumb yang rasanya melengkapi hidup sekali. Hahaha! Okayso I'm really bad at writing a food review (or anything, really...), but overall, menurut saya makanan yang kami pesan di sana semuanya enak. Tapi kalau ditanya menu apa yang akan membuat saya kembali ke Bloom, it would be the Pan-Seared Salmon dan Dry Ramen. 

Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg

Satu hal yang saya sayangkan adalah susahnya memanggil pramusaji saat berada di restoran ini. Sepertinya pramusajinya belum cukup banyak, jadi pelayanannya agak lambat. Bagi kalian yang butuh informasi lebih banyak mengenai Bloom - seperti menu lengkap dengan harga, review customer lainnya, fasilitas Wi-Fi, jam beroperasi, alamat dan sebagainya, silahkan lihat di sini.

Yang bikin semakin menyenangkan di sana selain berkumpul dengan keluarga saya adalah melihat Snow yang lahap makan kale salad, dan kehadiran sepupu kami, Akina yang pada satu minggu dari hari itu akan dilamar, tapi sayangnya saya dan Mono tidak bisa hadir ke acara lamarannya karena Mono harus tampil di Java Jazz 2018 bersama band-nya, Neurotic, dan saya bertugas sebagai fotografernya. So, we're so happy to be able to spend quality time with Akina that day. Apalagi sorenya Akina masih sempat menemani Snow nonton barongsai untuk pertama kalinya - baca ceritanya di siniSimple happiness, indeed.

Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg
Bloom_Hotel_Monopoli.jpg

#BAHAGIAITUSEDERHANA: BARBER SHOP

Hari itu Minggu, 25 Februari 2018.

Beberapa jam sebelum Snow nonton barongsai untuk pertama kalinya.

Saya, Mono dan Snow, beserta Bunda, menemani Yanda potong rambut di PAXI, Pacific Place.

Tadinya kami hendak jalan-jalan untuk menghabiskan waktu. Namun kemudian memutuskan untuk duduk menunggu di barber shop sampai proses potong rambut Yanda selesai.

Dan saya menyadari, betapa ini tidak terjadi sehari-hari. Bertemu dengan kedua orang tua, khususnya ayah saya, sekarang mungkin cuma sebulan dua kali. Menemaninya potong rambut, seumur hidup saya terjadinya dapat dihitung dengan jari pada satu tangan.

Mengamati rambutnya yang putih berkilau, namun masih hitam di bagian tengkuknya. Kemudian kerutan di wajahnya, dan senyum simpulnya yang selalu muncul ketika saya membidik beliau dengan kamera.

Bunda yang menghibur Snow dengan jenaka.

Snow yang sibuk bertanya, "Kursinya Yanda kenapa begitu, Mama? Kok lucu, ya?"

Mono yang sibuk dengan smartphone-nya, namun ia yang memberi ide untuk menunggu di sana saja.

Dalam momen yang sekejap itu, sungguh rasanya bahagia. Sederhana, namun sangat berharga.

IMG_0660.JPG
IMG_0662.JPG
IMG_0663.JPG
IMG_0665.JPG
IMG_0666.JPG

SNOW STORY TIME: PERTAMA KALI NONTON BARONGSAI

Snow_Barongsai_Show.jpg

Selama bulan Februari, saya kepikiran terus ingin ajak Snow lihat pertunjukan barongsai mumpung mal-mal sedang banyak menggelarnya dalam rangka Tahun Baru Cina. Rasanya selalu senang kalau saya dapat mengajak Snow melihat sesuatu untuk pertama kalinya. Melihat reaksi wajah Snow yang semangat dan terkagum-kagum. To me, it's just priceless and unforgettable for sure!

Tadinya sempat putus asa, karena sampai minggu terakhir bulan Februari, saya belum juga sempat mengajak Snow lihat barongsai. Tapi ternyata kalau jodoh nggak akan ke mana. Pada akhir pekan terakhir bulan Februari, ketika saya, Mono dan Snow beserta kedua orangtua saya sedang jalan-jalan di Pacific Place, kebetulan sekali saat kami berniat pulang, ayah saya melihat papan di atriumnya yang bertuliskan jadwal pertunjukkan barongsai di mal tersebut yang ternyata hari itu juga pukul 18.45. Akhirnya kami nggak pulang dan rela menunggu dari jam 5 sore untuk nonton barongsai di sana dengan Snow. Hahaha!

1.jpg
Snow_Barongsai_Show.jpg

Lucunya, walaupun Snow belum tahu apa itu barongsai - lihat video atau fotonya pun belum pernah, dia semangat banget waktu dikasih tahu bahwa kami akan nonton barongsai! Gemas banget. "Mama, kita jangan sampai kelewatan nonton barongsainya, ya!" seru Snow yang nggak sabar saat menunggu jadwal pertunjukan barongsai. Sambil menunggu, kami duduk-duduk di supermarket di lantai bawah dulu supaya saya dapat menyuapi Snow makan.

Ketika akhirnya sudah jam 18.45, kami pun naik ke atrium untuk melihat apakah pertunjukan barongsai sudah akan dimulai. Dan di sana kami lihat, sedang ada pertunjukan musik dan serombongan pemain barongsai sedang bersiap-siap.

Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Show.jpg
Snow_Barongsai_Show.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg

Nggak lama kemudian, terdengar bunyi perkusi dimainkan dan pertunjukan barongsai pun dimulai.Reaksi pertama Snow saat melihat pertunjukan barongsai benar-benar menggemaskan!

Pas saya tanya, "Suka nggak lihat barongsai, Snow?"

Snow menjawab, "Iya, tapi berisik, ya, Mama!" sambil menutup kedua kupingnya. Hahaha!

"Mama, kalau ada Asa seru nonton barongsai, ya! Kalau nggak ada Asa nggak seru." ucapnya sambil tetap memperhatikan pertunjukan. Ternyata bocahnya kangen sama sepupunya, karena biasanya mereka selalu bareng kalau main di rumah dan jalan-jalan ke mal.

"Pokoknya nanti aku harus cerita sama Asa kalau aku nonton barongsai!" kira-kira begitu katanya dengan gerak-gerik super lucu. Kalau mau lihat sendiri cara Snow mengatakannya, intip highlight di akun Instagram saya yang berjudul Snow. It'll make your day!

Snow_Barongsai_PP.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg

Nggak cuma Snow yang senang lihat barongsai, saya juga senang, karena memang cuma setahun sekali lihat pertunjukannya. Bahkan dulu, pada periode pemerintahan Soeharto, pertunjukan barongsai sempat dilarang di Indonesia. Saya baru tahu bahwa Federasi Olahraga Barongsai Indonesia atau FOBI yang menaungi kesenian barongsai telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia KONI. Yang artinya, pemain barongsai bisa disebut sebagai atlet barongsai. Bangga juga karena ternyata barongsai Indonesia sudah beberapa kali meraih juara dunia.

Ada yang menceritakan bahwa asal-usul tarian barongsai yaitu tarian yang dilakukan masyarakat Tiongkok untuk mengusir monster, hantu, dan roh-roh jahat. Ada juga yang menceritakan bahwa barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang. Ada yang tahu mana yang benar? Penasaran! 

Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg

Grup pemain barongsai yang hari itu tampil di Pacific Place kalau tidak salah bernama Kwan Im Bio - saya menduga dari tulisan yang tercantum di seragam mereka. Meskipun pertunjukan barongsai kali ini bukan yang sampai meloncat-loncat di atas tonggak-tonggak, saya dan keluarga, khususnya Snow sangat terhibur. Terima kasih kepada grup Kwan Im Bio dan Pacific Place atas pertunjukan barongsainya yang jadi momen pertama nonton bareng Snow!

Kira-kira begitu pengalaman pertama kami sekeluarga nonton barongsai dengan Snow. Kalau kalian bagaimana pengalamannya dengan barongsai?

Snow_Barongsai_Show.jpg

A WARM NEW YEAR'S EVE

Tahun_Baru_2018.jpg

Malam tahun baru 2018 ini adalah kali kedua saya merayakan dengan kumpul-kumpul bersama keluarga besar suami dari sisi ibu mertua. Kalau tahun lalu kami kumpul di rumah saja, kali ini kami bikin acara kecil-kecilan di restoran milik pacar adik ipar saya, nama tempatnya Tjikini 5. Ada yang pernah coba makan di sana? Makanannya cukup enak dan tempatnya homy. Saya sempat ajak kedua orangtua saya, tapi mereka memutuskan untuk menghabiskan malam tahun di rumah saja - bahkan sebelum jam 12 malam pun mereka sudah kirim pesan lewat Whatsapp untuk tidak menelepon saat countdown karena mereka mau tidur. Sedangkan kakak saya menemani suaminya yang tampil sebagai pengisi acara tahun baru di Bandung.

Acara malam itu diawali dengan makan-makan, lalu ada sesi permainan beer pong (tapi minumannya diganti orange juice supaya family friendly *LOL*). Seru! Sayang lupa foto karena sudah asyik terbawa suasana. Yang lucu, saudara-saudara yang usia 30 dan lebih muda bikin slide dari foto-foto lama sekeluarga untuk permainan tebak-tebakan, untuk menguji apakah semua mengenali wajah satu sama lain versi jadul. Lalu sempat ada pemutaran video momen-momen keluarga. Salah satu yang muncul momen pernikahan saya. Jadi merasa beruntung banget bisa menjadi bagian dari keluarga ibu mertua saya yang selalu kompak dan rajin kumpul ini.

Malam_Tahun_Baru_2018.jpg
Malam_Tahun_Baru_2018.jpg

Setelah pemutaran video, ada sesi permainan lagi. Yang terakhir ini permainannya benar-benar ngerjain, yaitu dansa berpasangan sambil mempertahankan posisi telur harus menempel di antara pipi pasangan yang lagi dansa. Hahaha! Susah, tapi lumayan menghibur bikin sekeluarga heboh.

Dasar Mono, suami saya yang anaknya bed potato banget (bukan couch potato, soalnya sukanya tidur-tiduran di ranjang di kamar bukan di sofa), dia cuma ikut acara sampai jam 10 malam, karena dia maunya nonton TV dan tidur saja di rumah. Mono pulang duluan sementara saya tetap di acara menemani Snow yang sepanjang malam serasa lagi pentas tari. Bocahnya keliling restoran sambil menari balet. Hahaha! Mungkin kalian bertanya-tanya apakah saya nggak marah ditinggal pulang sama Mono pas tahun baru? Walaupun sedikit kecewa nggak bisa berpelukan (ala teletubbies) saat countdown, tapi saya bawa santai saja karena nggak mau memaksakan dia tetap di acara tapi nggak nyaman. Daripada berantem nggak jelas di malam tahun baru, lebih baik saya nikmati acara keluarga saja dan fokus hadir untuk Snow. Lagipula momen kumpul bareng Snow dan Mono juga ada setiap hari, nggak harus di malam tahun baru.

Malam_Tahun_Baru_2018.jpg
Tahun_Baru_2018.jpg
Malam_Tahun_Baru_2018.jpg
Malam_Tahun_Baru_2018.jpg
Malam_Tahun_Baru_2018.jpg

Senang banget, malam tahun baru ini pertama kalinya Snow ikutan main kembang api dan menonton pertunjukan kembang api dari dekat - bukan cuma dari balkon rumah. Walaupun rada deg-degan, tapi saya memutuskan nggak melarang Snow main kembang api. Yang penting dia main di bawah pengawasan saya. Melihat ekspresi wajahnya yang bahagia dan terkagum-kagum saat main kembang api, main sama sepupunya Asa, bercanda dengan tante dan oom serta kakek dan neneknya, saya jadi ikut bahagia.

Tahun_Baru_2018.jpg
Tahun_Baru_2018.jpg
Malam_Tahun_Baru_2018.jpg
Malam_Tahun_Baru_2018.jpg

Tepat jam 12 malam, kami sekeluarga melakukan toast dan mengucapkan selamat tahun baru kepada satu sama lain, kemudian. Sampai rumah, ternyata Mono sudah tidur tapi ia terbangun saat kami masuk kamar, jadi kami bertiga sempat bercanda-bercanda dulu sebelum saya dan Snow tidur. Mono? Dia malah lanjut nonton TV lagi. Hahaha!

Overall, my new year's eve was a warm one, filled with love and laughter. How was yours?

FAMILY TIME: HAPPY SUNNY DAY AT PLATARAN DHARMAWANGSA

Plataran_Dharmawangsa.jpg

Pertama kali saya ke Plataran Dharmawangsa adalah untuk survey tempat menikah, sepertinya waktu itu tempatnya belum semenarik sekarang, saya pun juga tidak jadi mengadakan pernikahan di sana. Lalu, terakhir kami sekeluarga mengunjungi Plataran adalah untuk menghadiri pernikahan teman kami Shari dan Leo. Acaranya malam hari dan banyak dekorasi, jadi kami nggak menyadari tampilan Plataran yang sebenarnya. Akhirnya, saat hari Kamis kemarin libur, kami sempat ke sana lagi makan-makan bersama saudara-saudara dari pihak ayah saya dan suka sekali dengan suasananya yang sangat nyaman untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Jangan harap di sini saya menampilkan makanan dari restorannya, soalnya kami sudah seru mengobrol dan makan sampai lupa foto-foto makanan. Makanannya sudah bisa dipastikan enak-enak! Foto yang banyak saya ambil adalah suasana outdoor Plataran di mana Snow kegirangan dapat bermain dan memberi makan burung-burung yang ada di sana. Iya! Ada burung merpati, ayam mutiara, love birds dan burung nuri yang cantik-cantik. Ditambah lansekap yang penuh tanaman hijau yang indah, meskipun matahari bersinar cukup terik hari itu, rasanya saya ingin lama-lama duduk di sana sambil menikmati pemandangan Snow bermain.

Cinta_Ruhama_Amelz.jpg
Cinta_Ruhama_Amelz.jpg

Melihat reaksi Snow terhadap burung-burung yang ada di sana seakan membuat saya teringat masa kecil di mana segala sesuatu masih terasa baru. Awalnya, Snow masih ragu mendekati mereka, hanya mau melihat dari jauh meskipun dalam hati rasa ingin tahunya tidak terbendung.

Untuk mengajari Snow supaya tidak takut, kami mengajaknya memberi makan burung merpati dan ayam mutiara yang berkeliaran di sana. Lama-kelamaan, Snow jadi berani berdiri lebih dekat dengan burung-burung tersebut.

Plataran_Dharmawangsa.jpg
Cinta_Ruhama_Amelz.jpg
Cinta_Ruhama_Amelz.jpg

Ekspresi Snow yang semangat ingin buru-buru memberi makan burung-burung ketika mereka mendekat benar-benar bikin gemas! Serius banget. 

Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Cinta_Ruhama_Amelz.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg

Pas sudah ketemu asyiknya, Snow jadi sibuk cari-cari burung mana yang bisa ia beri makan. Sampai merpati dibalik semak-semak pun dihampiri. Tapi merpatinya langsung terbang dan bertengger di tempat tinggi.

Plataran_Dhamrwangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg

Bunda saya nggak mau kelewatan kesempatan untuk foto bertiga dengan Yanda dan cucu kesayangannya. Plus, OOTD juga. Hihihi! Di Plataran banyak banget spot untuk foto, dari berbagai angle tempatnya cantik, makanya foto untuk blog post ini bisa sampai banyak banget. Nggak heran juga kalau tempat ini sering dipakai sebagai tempat menikah, karena memang bagus tempatnya, apalagi kalau maunya acara pernikahannya yang sederhana dan tidak terlalu banyak tamu.

Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg

Hari itu kami sebenarnya ke Plataran karena diundang tante saya yang berulang tahun. Orangnya yang paling kanan di foto di bawah ini, namanya Lina Amran, saya dan kakak saya Ykha memanggilnya Tante Lina. Di antara saudara-saudara dari pihak keluarga ayah saya, kami paling dekat dengan Tante Lina, kakaknya, Tante Nini dan adiknya, Tante Pipi (wanita berhijab yang di sebelah Snow di foto di atas). Sejak masih bayi, kami suka dibawa main ke rumahnya. Ada cerita lucu, Tante Lina ini dulu suka gambar-gambar - salah satu yang paling sering disebut gambar cicak - di pantat saya dan Ykha bayi. Usil banget, ya!

Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg

Kalau yang ada di foto dengan kakak saya ini adalah suaminya, Hendra Jaya Putra. Hendra adalah seorang musisi, punya band yang namanya Rock N' Roll Mafia. Entah kenapa, saya dan Ykha sama-sama dapat jodoh anak band. Hihihi! Serunya, suami-suami kami jadi bisa kolaborasi. Di album band Neurotic Mono, ada lagu yang merupakan kolaborasi dengan Rock N' Roll Mafia. Kemudian, setelah diumumkan jadi salah satu anggota Rock N' Roll Mafia, beberapa minggu yang lalu Mono sempat ikut tur keluar kota jadi gitaris dan keyboardist Rock N' Roll Mafia berkolaborasi dengan Elephant Kind di event Urban Gigs. Senang deh, suami-suami kami akur dan bisa kerja bareng!

Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Cinta_Ruhama_Amelz.jpg

Lihat foto di bawah ini jadi ingat waktu saya masih kecil digendong-gendong sama Yanda. Bahagia banget ternyata saya diberikan kesempatan melihat pemandangan ini, Yanda gendong cucunya. Semoga Yanda dan Bunda diberikan umur panjang sampai bisa melihat Snow menikah dan main dengan cicit-cicitnya nanti.

Cinta_Ruhama_Amelz.jpg
Cinta_Ruhama_Amelz.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg
Plataran_Dharmawangsa.jpg

Pengalaman kami menghabiskan quality time bersama di Plataran Dharmawangsa menyenangkan sekali. Oh, iya...mau info saja kalau di restoran ini toiletnya juga nyaman, memungkinkan pula untuk ganti pampers bayi, dan baby chair juga tersedia. The place is very family and kids friendly. Jadi saya rekomendasikan banget untuk coba ke Plataran Dharmawangsa kalau mau makan-makan bersama keluarga, karena nggak hanya makanannya enak, tapi anak-anak bisa main sambil lihat-lihat burung di taman di bawah pengawasan orang dewasa.

Kalau kalian sendiri ada nggak tempat yang jadi favorit untuk menghabiskan quality time dengan keluarga? Kalau ada, boleh sharing di boks komentar di bawah, ya.

Thank you for reading and I hope today will be a start of a great week for you!