FAMILY

BERKUNJUNG KE PAMERAN WARNA-WARNA

Saya tertarik sekali untuk datang ke Pameran Warna-Warna di dia.lo.gue ketika Andien mengirimkan undangan ke grup Whatsapp AVENU Creators. Sebuah pameran seni rupa yang menampilkan karya anak-anak berkebutuhan khusus dari Art Therapy Center Widyatama yang mereka ciptakan sebagai respon terhadap lagu Warna-Warna Andien. Sempat sedih saat saya kira saya kelewatan pameran ini, tapi ternyata memang sudah jodoh untuk datang ke sini karena pamerannya diperpanjang. Tadinya dari 28 Agustus sampai 9 September, menjadi sampai 16 September, sehingga akhirnya saya sempat berkunjung. Jadi, saya juga dapat berbagi dengan kalian yang tidak sempat ke sana tentang pengalaman saya mengunjungi Pameran Warna-Warna. Pameran ini banyak memberikan saya inspirasi, bahwa dengan segala keterbatasan, kita harus tetap bisa berkarya. Dan perbedaan ‘warna’ di dunia, dapat menjadi sesuatu yang indah jika kita dapat saling menerima dengan damai.

Snow di depan instalasi interaktif  Tree of Hope   oleh Ogi dari Larch Studio . Pada secarik kertas di kiri bawah, tertulis: Silahkan ambil benang ini. Ikatkan pada ranting yang ada. Mari kita lanjut harapan hari ini, untuk impian hari esok.

Snow di depan instalasi interaktif Tree of Hope oleh Ogi dari Larch Studio. Pada secarik kertas di kiri bawah, tertulis: Silahkan ambil benang ini. Ikatkan pada ranting yang ada. Mari kita lanjut harapan hari ini, untuk impian hari esok.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Instalasi Tree of Hope ini terbuat dari ranting-ranting kayu di pinggir jalan raya dan gulungan benang sisa pabrik karpet. Memiliki pesan yang indah sekali, yaitu bagaimana sesuatu yang dipandang “terbuang” dan “tidak berguna” ternyata bisa menjadi cantik dan memiliki nilainya tersendiri. Bagi setiap orang arti instalasi ini dapat berbeda, tergantung dari perspektif masing-masing. Saya sendiri mengartikannya seperti ini: manusia ibarat gulungan benang yang berbeda-beda warna, benang warna-warni yang terjalin pada ranting menciptakan keindahan, seperti halnya manusia jika dapat saling bekerjasama meskipun memiliki jalan pikiran yang berbeda.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Mengunjungi pameran seni selalu membuat saya merasakan sesuatu. Menggelitik jiwa. Mencoba membayangkan apa yang dirasakan orang ketika menciptakan karyanya. Mencari arti tersendiri di balik karya tersebut yang dapat bermanfaat untuk saya. Ngomong-ngomong mengenai pencipta karya, yang ditampilkan di pameran adalah karya: Dwi Andini Ma’ruf, Adryan Adinugraha, Akbar Alliya, Ahmad Taufan, Nazario Prianggara Kurniawan, Angkasa Nasrullah Emir, Faiz Muhammad, Hillary Salsabila Sulton, Abiyan Zahran Faizal, Ariq Rabbani, Ghany Aziz, Mulyo Rahardjo, M. Nouval Radian dan M. Ihsan Nabil Budi. Semua merupakan murid di Art Therapy Center Widyatama yang berkebutuhan khusus. Ada yang mengalami autisme, gangguan sistem metabolisme yang dikarenakan cedera otak, kelainan saraf pada otak, dan sebagainya.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Waktu saya kecil, ayah saya sering mengajak saya dan kakak melihat pameran seni. Jadi waktu saya berencana berkunjung ke Pameran Warna-Warna, saya sengaja mengajak Snow, Mono, dan kedua orangtua saya untuk semacam nostalgia dengan mereka akan masa kecil saya. Kebetulan Snow juga lagi senang menggambar dan melukis, jadi menurut saya datang ke pameran seperti ini dapat membuatnya lebih semangat lagi melakukan kegiatan tersebut.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

Sepertinya ayah saya senang berkunjung ke pameran ini, karena ia sibuk melihat-lihat karya, memotret, dan saat kami ajak pulang, ia justru masih ingin berlama-lama di sana. Kami sekeluarga menghabiskan waktu yang menyenangkan di dia.lo.gue. Nggak hanya karena ada Pameran Warna-Warna, tapi juga karena kami sempat makan siang di sana dan makanan di dia.lo.gue itu enak-enak sekali! Hari itu merupakan hari Sabtu yang sangat seru bagi saya dan keluarga.

Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg
Pameran_Warna_Warna_ATC_Widyatama_Andien_Aisyah.jpg

SNOW STORY TIME: BOBO SAMA SIAPA NANTI MALAM?

Snow_Story_Time.jpg

Saya rasa banyak orangtua yang senasib dengan saya jika masih tinggal bersama mertua: suka takut anak terlalu dimanjakan oleh mertua kita alias kakek neneknya sehingga ketika kita sedang berusaha mendisiplinkan anak, anak akan memandang kita sebagai the bad cop. Anak jadi terbiasa untuk lari ke kakek neneknya ketika tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari orangtuanya. Misalnya, ketika saya dan suami menolak untuk membelikan Snow mainan karena ia baru saja beli mainan satu hari sebelumnya, tapi permintaan tersebut dengan mudah diiyakan oleh kakek neneknya. 

Saya cukup khawatir ketika Snow mulai suka memilih untuk tidur dengan kakek neneknya. Muncul pertanyaan di kepala saya, apakah Snow merasa lebih dicintai oleh kakek neneknya yang lebih sering memanjakannya dibanding oleh saya dan suami yang banyak memberikan peraturan untuknya demi mendisiplinkan Snow? Maka suatu hari ketika saya sedang memakaikan baju pada Snow, saya sengaja memulai obrolan dengannya.

"Snow, kenapa sekarang Snow sukanya bobo sama ibu dan bapak (panggilan Snow untuk kakek neneknya mengikuti cara saya memanggil mereka)?"

"Nggak, aku suka bobo sama onci (aunty alias tantenya Snow) juga." jawab Snow. Kebetulan tantenya pun selalu baik sama Snow.

"Kenapa? Memangnya Snow nggak suka bobo sama mama dan Mono?" tanya saya lagi kepada Snow.

"Bukan, Mama... Aku sukanya gantian, hari ini sama mama sama Mono, besok sama ibu sama bapak, terus sama onci juga. Soalnya aku sayang sama semuanya."

Saya tersenyum dan cukup lega mendengar penjelasan Snow.

"Jadi Snow bobo sama siapa nanti malam?" sekali lagi saya bertanya.

"Sama mama sama Mono!" seru Snow sambil joget dan tersenyum jahil.

Senangnya punya anak yang sudah mengerti konsep menyayangi dan dapat berbagi rasa sayangnya dengan banyak orang. Walaupun terkadang saya masih suka khawatir apakah cara kami mendisiplinkan Snow akan menjauhkannya dari kami dan membuatnya lebih dekat dengan orang-orang yang lebih sering memanjakannya, saya mencoba untuk selalu yakin bahwa Snow mengerti bahwa yang kami lakukan semua demi kebaikannya dan karena cinta kami padanya begitu besar.

Untuk kalian yang pernah bertanya di DM Instagram, bagaimana caranya bisa akur dengan mertua ketika tinggal di bawah atap yang sama? Jujur, mertua saya itu orangnya sangat menyenangkan, santai, dan baik sekali. Tapi meskipun begitu, bukan berarti kami selalu akur. Saya rasa konflik itu pasti akan datang dan pergi, antara kita dengan mertua atau dengan siapapun juga. Tapi jika kalian merasa sering mengalami masalah dengan mertua, saya ingat di Woop.id pernah ada artikel di bawah ini yang mungkin dapat membantu kalian.

BAGAIMANA AGAR BISA AKUR DENGAN IBU MERTUA

SINGAPORE DAY 1: CHANGI - YORK HOTEL - MARINA BAY SANDS

Akhir pekan kemarin menyenangkan sekali! Kami sekeluarga besar liburan ke Singapura dengan tujuan utama bawa bocah-bocah alias Snow dan sepupunya, Asa ke Universal Studios Singapore.

Selama sebulan sebelum keberangkatan, hampir setiap hari Snow dan Asa menunjukkan ketidaksabaran mereka. Ada saja tingkah laku Snow, mulai dari berniat tidur di kamar tantenya dengan alasan, "Supaya bangun-bangun langsung di hari kita berangkat ke Singapura!" atau pas dibangunkan untuk mandi sebelum ke sekolah ia malah bertanya, "Kita ke Singapura hari ini, kan?" Hahaha! Saya sampai geleng-geleng kepala. Semuanya karena ia diperlihatkan foto Universal Studios Singapore ketika dijelaskan ke mana tujuan liburan kami.

Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, datang juga hari keberangkatan kami ke Singapura. Di Sabtu pagi, kami jalan ke bandara Soekarno-Hatta jam 6.30 untuk naik pesawat jam 8.00. Kami bersembilan berangkat naik 3 taksi Bluebird yang sudah dipesan sejak malam hari, sedangkan untuk pesawatnya kami memilih Lion Air. Sempat ragu pas dengar cerita-cerita penumpang pesawat Lion Air penerbangan domestik yang bagasinya dibongkar, tapi untungnya hal tersebut nggak terjadi pada kami.

P1210194.jpg
Singapore_Day_1_Marina_Bay_Sands_York_Hotel.jpg

Kami tiba di Singapura sekitar jam 11 siang, lalu makan siang sebentar di McDonald's di Changi Airport sebelum kemudian naik taksi ke York Hotel tempat kami menginap selama 3 hari 2 malam. Untuk 9 orang, kami menyewa 2 Superior Room (1 dengan Queen Bed, 1 dengan 2 Twin Beds) dan 1 Deluxe Family Room (dengan 1 Queen Bed dan 2 Twin Beds). Kalau kalian mau lihat seperti apa kamar-kamarnya bisa cek di situsnya di sini. Menurut saya York Hotel ini nyaman sekali. Kamarnya sesuai dengan yang ditampilkan di situs, interior hotelnya nyaman di mata, menu sarapannya enak dan setiap hari ada yang berbeda, koneksi Wi-Fi lancar, dan karyawannya ramah-ramah serta sangat membantu. Selama menginap di sini, kami sama sekali tidak mengalami masalah apa pun. Kalau mau reservasi kamar, York Hotel sudah terdaftar di berbagai situs seperti Traveloka ataupun tiket.com.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Kami nggak berlama-lama di hotel, hanya check in, meletakkan koper-koper dan leyeh-leyeh sebentar. Setelah itu, kami mulai jalan-jalan, deh! Tujuan di hari pertama adalah ke Marina Bay Sands. Dari York Hotel, kami jalan kaki menuju Paragon Shopping Centre Orchard kemudian ke 313 Somerset untuk naik MRT dari sana. Dari Somerset ke Marina Bay Sands, biaya MRT-nya adalah 2 dolar Singapura per orang dengan waktu perjalanan sekitar 15 menit. Selama ini Snow selalu ingin naik kereta, ternyata akhirnya ia kesampaian naik MRT di Singapura. Anaknya senang banget!

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Sampai di Marina Bay Sands, yang pertama kali kami lakukan adalah Sampan Rides. Hahaha! Sebenarnya ini kegiatan lucu-lucuan untuk menghibur Snow dan Asa saja. Kalau biasanya ke mal di Jakarta mereka suka naik kereta mainan, di Marina Bay Sands mereka bisa naik sampan. Nggak semua anggota keluarga ikutan naik, saya dan adik ipar saya, Ninis (yang sudah berangkat duluan ke Singpura dan janjian dengan kami di sana) hanya menemani bocah-bocah. Untuk naik sampan ini biayanya 10 dolar Singapura per orang. Menurut saya mahal sih, tapi sekali saja untuk menghibur anak-anak tidak apa-apa.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Setelah naik perahu kami makan di food court Marina Bay Sands yang pilihan makanannya banyak banget dan enak-enak! Bawa 10 dolar Singapura per orang sudah dapat porsi makanan yang super mengenyangkan. Sayang saya lupa foto food court ataupun makanannya karena sudah kelaparan. Hahaha! Nah, di depan food court ada atraksi Digital Light Canvas. Walaupun untuk orang dewasa atraksi ini akan terlihat biasa saja, yang menghibur bagi saya adalah reaksi Snow ketika ia berlari-lari di atas lantai yang berupa layar digital yang menampilkan ikan-ikan yang bergerak sesuai langkah kaki di atas layar tersebut. Untuk menikmati atraksi ini, biayanya adalah 5 dolar Singapura per orang.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Setelah semua kenyang, puas cuci mata dan belanja (kalau mau tahu daftar brand yang ada tokonya di Marina Bay Sands lihat di sini), kami duduk-duduk di area outdoor Marina Bay Sands untuk menikmati pemandangan sekitar dan udara segar. Sore itu ramai sekali di area outdoor tersebut, karena sedang ada latihan perayaan hari kemerdekaan Singapura untuk tanggal 9 Agustus. Kalau kalian lihat baik-baik, di foto di bawah ini, terlihat titik-titik merah putih di bagian kanan itu sebenarnya adalah kumpulan orang-orang yang turut serta meramaikan latihan perayaan kemerdekaan. Banyak banget, kan? Sudah berjejer pula orang dengan kamera dan tripod untuk menangkap momen latihan tersebut yang dimeriahkan dengan pertunjukan pesawat jet, helikopter, tank serta kembang api.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Ketika beberapa tank menembak ke udara dan pesawat-pesawat jet beterbangan, Snow sempat terkejut mendengar bunyinya dan kemudian menangis. Kasihan tapi gemas juga lihatnya! Hihihi...

Dari Marina Bay Sands, kami memutuskan untuk pulang kembali ke York Hotel naik MRT lagi. Kami sengaja pulang lebih cepat karena ingin menyimpan energi untuk keesokannya ke Universal Studios Singapore.

Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Marina_Bay_Sands_York_Hotel_Changi.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg
Singapore_Day_1_Changi_Airport_York_Hotel_Marina_Bay_Sands.jpg

Sebenarnya di Marina Bay Sands masih banyak sekali hiburan yang bisa dieksplorasi, ada SkyPark dengan kolam renang tanpa batas, Spectra yang merupakan pertunjukkan air mancur dan lampu, Sands Theater dengan pertunjukan pentas ala Broadway, dan ada ArtScience Museum. Kalau kalian ingin tahu lengkapnya apa saja yang dapat dieksplor di Marina Bay Sands dan biayanya berapa, bisa cek di siniAnyway, ada pilihan lain juga kalau kalian malas ke Marina Bay Sands yang suasananya seperti mal atau hotel dan lebih ingin main-main di tempat yang hijau-hijau alias taman. Kalian bisa ke Singapore Botanic Gardens dan di sana ada tempat bermain untuk anak yang namanya Jacob Ballas Children's Garden yang direkomendasikan oleh teman saya Glenn Prasetya. Saya sendiri dulu pernah ke Singapore Botanic Gardens tapi belum pernah ke Jacob Ballas Children's Garden tersebut, makanya tertarik juga untuk ke sana kalau kembali ke Singapura dengan Mono dan Snow.

Apakah kalian sudah pernah mengunjungi semua tempat ini? Berbagi cerita tentang pengalaman kalian di sini, dong! Pasti akan membantu teman-teman yang mencari informasi tempat wisata di Singapura.

SUMMER SNOW JONES, MY LITTLE REBEL

IMG_8606.JPG

Beberapa bulan terakhir, Snow sudah bisa marah-marah dan melawan. Galak banget pula! Suatu hari pas saya melarangnya mencolek krim dari seloyang kue yang masih mau disimpan, bocahnya mengamuk. Dia menangis, memukul saya (walaupun belum ada tenaganya), kemudian mengatakan ke saya dengan nada tinggi, “Aku nggak mau lagi main sama mama!” Tentu saja saya tidak mengambil hati perkataannya - namanya juga anak kecil.

Kemudian sempat juga Snow mencakar dada dan menendang kaki saya waktu saya berusaha menggendongnya ke mobil untuk berangkat sekolah sementara Snow maunya nonton kartun saja di rumah. Perilakunya disertai teriakan penuh amarah dan lempar-lempar tisu selama perjalanan di mobil.

Adegan Snow lempar-lempar benda pun nggak berhenti sampai di situ. Snow juga sempat melayangkan bukunya waktu sedang diajarkan membaca oleh ayahnya - Mono memang cukup galak sama Snow perihal belajar.

Saya sempat menceritakan ini ke Kania Anggiani, seorang teman yang sudah memiliki dua anak. Ia pun menceritakan bahwa anaknya juga sempat melalui fase ini, memukul atau menendang ketika melampiaskan kemarahan atau kesedihannya. Di akhir obrolan itu kami sepakat, kalau anak lagi marah atau menangis, daripada melarang mereka mengekspresikan kemarahannya atau kesedihannya dengan mengatakan “Nggak perlu pakai marah (atau menangis), ya..” yang mungkin akan bikin mereka lebih histeris, lebih baik didik mereka untuk boleh merasakannya dan menyalurkannya tapi dengan cara yang tidak destruktif. Ini adalah awal memperkenalkan mereka dengan kesadaran kesehatan mental, lho... Salah satu cara saya: ajak anak berpelukan. Misalnya, saya akan katakan ke Snow, “Snow marah (atau sedih), ya? Boleh kok, sini peluk mama, boleh sekuat-kuatnya sampai nggak marah (atau sedih), ya...” Biasanya Snow akan jadi lebih tenang. Anak kecil dan orang dewasa itu sama, sebagai manusia terkadang kita cuma butuh orang untuk bersandar ketika kita sedang marah atau sedih. Benar nggak? Kalau mood Snow sudah ceria lagi, baru saya ajak ngobrol membahas alasan keinginannya belum atau tidak dipenuhi.

Saya berbagi cerita ini untuk sesama orangtua, agar tidak merasa sendirian atau berkecil hati jika anak juga sedang melalui fase ini. Banyak sekali orangtua yang juga mengalami, jadi tidak perlu malu. Ini justru kesempatan kita sebagai orangtua untuk menunjukkan ke anak bahwa kita siap mendengarkan keluh kesah mereka - menjadi tempat mereka untuk bersandar.

Kalau kalian ada cerita nggak mengenai perilaku anak, ponakan atau adik yang mulai dapat melampiaskan kemarahannya? Do share your story on the comment section below! Jangan lupa tulis juga nama akun Instagram kalian. 5 orang yang ceritanya paling menarik akan saya beri hadiah berupa NYX Powder Puff Lippie. Saya akan umumkan pemenangnya di Instastory saya pada tanggal 5 Agustus 2018.

*Diperpanjang hingga tanggal 8 Agustus 2018 jam 12 malam. Pengumuman pemenang pada tanggal 9 Agustus 2018.

Habis sharing cerita kalian, kalau tertarik boleh baca rekomendasi artikel dari Woop.id berikut yang masih bersangkutan dengan cara bersikap ketika anak mulai melawan.

SUDAH TIDAK JAMANNYA LAGI MEMUKUL ANAK, SAATNYA MEMILIH DISIPLIN POSITIF

OUR SHORT GETAWAY TO BALI - PART III: POOL TIME AT ALILA SEMINYAK

Melanjutkan cerita pada post saya yang terakhir, setelah saya scenic cycling, saya janji sama Snow mau berenang bareng. Ngomong-ngomong soal berenang, kolam renang di Alila Seminyak itu banyak banget - kalau nggak salah ada 5. Salah satunya terletak persis di depan kamar kami. Karena waktu kami menginap itu saat hari kerja, jadi hotelnya lagi lumayan sepi, sehingga kolam renangnya pun jadi serasa milik sendiri - yang berenang cuma saya, Snow, serta Sara Robert dan Sarah Ayu yang juga sedang mengikuti rangkaian acara IZIPIZI.

P11s30669.jpg

Saya pernah menulis di post Instagram bahwa salah satu hal yang saya perhatikan saat memilih hotel tempat menginap itu adalah desain lansekapnya, termasuk pilihan tanaman hiasnya. Hahaha! Kalau tanaman hiasnya nggak terawat, nggak ditata dengan cantik, rasanya jadi merusak pemandangan dan bukannya bikin santai malah bikin saya gemas lihatnya. Saya suka banget lihat tanaman hias di Alila, termasuk yang di sekitar kolam renang ini. Cantik, nyaman dipandang, bikin betah berenang lama-lama.

Selain itu, kolam renang yang terawat dan bersih juga jadi perhatian saya. Coba bayangkan kalau kolam renang airnya keruh, banyak daun mengambang, airnya bau. Pasti bikin malas berenang!  Hotel bintang 5 bukan jaminan kolam bersih, lho... Tapi senangnya, di Alila Seminyak, kolam renangnya terawat dan bersih sekali. Kolam yang di depan kamar kami ini juga 'ramah' untuk anak-anak, karena ada bagian yang tidak dalam, sehingga Snow masih bisa jalan-jalan di bagian tersebut.

Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg

Meskipun kolamnya ada bagian yang tidak dalam dan saya menemani Snow berenang, Snow tetap saya pakaikan pelampung untuk keamanannya. Plus, supaya saya nggak terlalu lelah gendong-gendong Snow di kolam renang. Saya sempat dapat banyak pertanyaan mengenai pelampung Snow waktu saya mengunduh foto Snow mengenakannya di Instagram. Pelampungnya Snow yang berbentuk swim jacket ini merknya Konfidence, dibelikan mertua saya dari Birds & Bees Baby. Snow juga punya baju renang dari merk ini dengan pelampung yang sudah dimasukkan pada baju renangnya - waktu itu saya dihadiahkan oleh Birds & Bess Baby juga, tapi saya lebih merekomendasikan yang bentuk swim jacket, periode pemakaiannya bisa lebih lama dibanding yang bentuknya baju renang - yang akan lebih cepat tidak muat di tubuh Snow begitu ia membesar. Saya juga lebih suka warna dan desain pelampung yang model swim jacket ini, dengan ritsleting depan dan velcro strap untuk menjaga agar ritsletingnya tidak terbuka. Bahannya neoprene dan soft Lycra yang lembut, nyaman, lebih memberikan rasa hangat sekaligus 100% memberikan perlindungan dari sinar UV pada area yang menutupi tubuh. Warna kuning terang pada bagian belakangnya membantu supaya anak lebih eyecatchy ketika sedang bermain, jadi nggak gampang hilang dari pengawasan orangtua. Bentuk swim jacket tanpa lengan ini juga memudahkan Snow menggerakkan lengannya untuk belajar berenang dibanding menggunakan pelampung di lengan. Berkat pelampung ini, saya juga jadi nggak deg-degan kalau Snow heboh terjun-terjun ke kolam renang.

Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg

Selama berenang, Snow kelihatan semangat banget. Semangatnya jadi berlipat-lipat ganda karena ada Sara dan Sarah yang mengajaknya main di kolam renang. Snow heboh tertawa cekikikan, memanggil-manggil Sara, Sarah dan saya, meminta kami mengikuti gerakannya, melihat di lompat ke kolam dan sebagainya. Kami beruntung Sara dan Sarah senang main sama anak kecil, jadi momen berenang kami jadi lebih menyenangkan. Sayang, Sarah nggak sempat saya foto di sini, tapi yang memotret foto saya berdua dengan Snow ini Sarah, lho... We truly had a fun time at the pool that day. Habis berenang, kami siap-siap ke pantai, deh!

Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg
Pool_Time_Alila_Seminyak.jpg

SHOP HERE

A MONTH & A HALF BREAK & LIFE LATELY

IMG_0039blog.jpg

Hi, everyone! I'm finally back on the blog. Sorry not sorry for missing in action for a month and a half. Pasalnya, pertengahan Mei hingga pertengahan Juni merupakan periode yang sangat berat bagi saya. Selain sempat mengalami masalah kesehatan (akan saya ceritakan di post terpisah) sejak bulan Mei, saya juga sempat melalui masalah dalam hubungan saya dengan suami sehingga saya merasa belum sanggup untuk menuangkan tulisan ke blog - karena mood dan kondisi tubuh yang sedang sangat kacau. Ya, saya tidak malu mengakui hal ini, karena saya yakin setiap pasangan pasti pernah mengalami masalah dalam hubungan mereka dan ini merupakan hal yang normal. Dan bukannya saya ingin mengumbar masalah rumah tangga atau mencari perhatian, tapi saya hanya tidak ingin orang-orang mengira bahwa hubungan yang sempurna adalah hubungan yang tidak pernah melalui pertengkaran. Menurut saya, hubungan pasangan akan lebih erat jika antara satu pihak dan lainnya dapat belajar hal positif dari masalah yang mereka alami, berkomunikasi, serta terus mencoba memperbaiki diri masing-masing agar masalah yang sempat terjadi tidak terulang kembali. Setuju?

Saya tidak akan membahas hal ini lebih detail. I'm just going to tell you that I'm feeling a lot better lately, physically and mentallyOur family is doing great. Kami menyempatkan untuk liburan ke Bali di akhir bulan Juni kemarin. It was so much funI can't wait to tell you all about it. Bocorannya sudah saya post di Instagram, sih... Hehehe! Tapi sebelumnya, saya akan menulis post setelah ini untuk melanjutkan cerita saya yang terputus di post terakhir saya di bulan Mei. Semoga kalian sabar menunggu post-nya, ya...

Thank you for reading and I hope you're all in a good condition. Healthy and happy.

OUR SHORT GETAWAY TO BALI - PART I

Bulan April lalu, saya diundang oleh In Alphabetical Order, distributor resmi IZIPIZI untuk hadir di acara mereka di Bali. Bagi kalian yang belum tahu, IZIPIZI itu adalah brand kacamata asal Perancis yang sudah masuk Indonesia - tepatnya Jakarta, Bandung dan Bali - sejak Juli 2017. Nah, waktu itu, saya pikir-pikir seru juga kalau ajak Mono dan Snow ikut karena kebetulan saya dibukakan kamar di Alila Seminyak selama 3 hari 2 malam dan ternyata saya lumayan mendapat free time yang banyak di sana, jadi masih bisa menghabiskan waktu lama dengan mereka meskipun ada beberapa aktivitas yang harus saya ikuti dari IZIPIZI.

IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg

Long story short, kami berangkat ke Bali. Perjalanan dari Jakarta ke Bali sangat lancar. Snow sama sekali nggak rewel di pesawat, malah dia sangat excited bisa naik pesawat. Walaupun sebenarnya ini sudah ke sekian kali untuknya, tapi karena memorinya pas umur 2 tahun belum terlalu kuat, bagi Snow ini seperti pengalaman yang pertama. She sat like a really good girl during our flight. Selama dua jam perjalanan, Snow sibuk bermain dengan activity book yand saya bawakan untuknya dan kemudian minta nonton film kartun Coco. Pas disediakan makanan pun Snow menyantapnya dengan lahap. Mono benar-benar helpful selama perjalanan, setiap Snow minta ini-itu Mono langsung membantu. Bahkan, dia yang menyuapi Snow makan. Senang, deh!

Sampai Bali, kami dijemput oleh panitia In Alphabetical Order dan di jalan dari bandara ke hotel, Snow tidur nyenyak. Then we checked into our room. Saya nggak punya waktu banyak, karena 1 jam setelah check in sudah harus mengikuti aktivitas pertama bersama peserta acara IZIPIZI lainnya. So I got ready and went to dinner, sementara Mono dan Snow leyeh-leyeh di kamar, menunggu teman kami yang tinggal di Bali untuk makan malam bareng mereka.

IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg
IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg
IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg

Untuk acara makan malam di Sea Salt bersama IZIPIZI, saya memilih untuk mengenakan atasan batik panjang Sejauh Mata Memandang yang sudah lama saya miliki, celana panjang bermodel lebar dari Pomelo, anting Young Frankk, serta tas kecil dan sepatu anyam dari Zara.

IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg

The dinner at Sea Salt was so good - starting from the appetizer to the dessert! Lupa, sih, makan apa saja lengkapnya, tapi semuanya enak. Tapi yang paling membekas di lidah saya itu si makanan pembuka berupa rujak semangka dengan bumbu rempah-rempah yang rasanya sangat unik, saladnya yang sangat fresh, dan makanan pencuci mulut yang warna hijau-hijau di foto di bawah ini. Sekali lagi lupa itu apa, yang pasti ada merengue, krim matcha dan es krimnya. ENAK!

IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg
IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg
IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg
IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg
IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg

WhoopsDid I forgot to mention that my sister was also invited to the event? Iya! Seru banget, kan... Bisa ikutan acara IZIPIZI ini di Bali bareng kakak saya juga. Sebelum kembali ke kamar untuk istirahat, saya sempat memotret kakak saya, Ykha dengan Snow. Di foto ini, Snow nggak tahu kalau Ykha lagi di belakangnya - dia pikir dia lagi foto sendiri. Hahaha! Lihat, tuh, gaya centilnya Snow...

IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg

Malam itu saya mengatakan ke Snow, "Snow, malam ini cepat tidur, ya... Supaya Snow energinya banyak untuk besok, soalnya besok kita mau berenang dan main ke pantai." Snow melotot dan tersenyum lebar sambil memandang saya. "Yeay, pantai, pantai!" serunya kegirangan. And then she slept so well through the night. Will continue the story of our short getaway to Bali and of course more about IZIPIZI very, very soon. Keep checking my blog!

IZIPIZI_Alila_Seminyak_Cinta_Ruhama.jpg

#BAHAGIAITUSEDERHANA: BARBER SHOP

Hari itu Minggu, 25 Februari 2018.

Beberapa jam sebelum Snow nonton barongsai untuk pertama kalinya.

Saya, Mono dan Snow, beserta Bunda, menemani Yanda potong rambut di PAXI, Pacific Place.

Tadinya kami hendak jalan-jalan untuk menghabiskan waktu. Namun kemudian memutuskan untuk duduk menunggu di barber shop sampai proses potong rambut Yanda selesai.

Dan saya menyadari, betapa ini tidak terjadi sehari-hari. Bertemu dengan kedua orang tua, khususnya ayah saya, sekarang mungkin cuma sebulan dua kali. Menemaninya potong rambut, seumur hidup saya terjadinya dapat dihitung dengan jari pada satu tangan.

Mengamati rambutnya yang putih berkilau, namun masih hitam di bagian tengkuknya. Kemudian kerutan di wajahnya, dan senyum simpulnya yang selalu muncul ketika saya membidik beliau dengan kamera.

Bunda yang menghibur Snow dengan jenaka.

Snow yang sibuk bertanya, "Kursinya Yanda kenapa begitu, Mama? Kok lucu, ya?"

Mono yang sibuk dengan smartphone-nya, namun ia yang memberi ide untuk menunggu di sana saja.

Dalam momen yang sekejap itu, sungguh rasanya bahagia. Sederhana, namun sangat berharga.

IMG_0660.JPG
IMG_0662.JPG
IMG_0663.JPG
IMG_0665.JPG
IMG_0666.JPG

SNOW STORY TIME: PERTAMA KALI NONTON BARONGSAI

Snow_Barongsai_Show.jpg

Selama bulan Februari, saya kepikiran terus ingin ajak Snow lihat pertunjukan barongsai mumpung mal-mal sedang banyak menggelarnya dalam rangka Tahun Baru Cina. Rasanya selalu senang kalau saya dapat mengajak Snow melihat sesuatu untuk pertama kalinya. Melihat reaksi wajah Snow yang semangat dan terkagum-kagum. To me, it's just priceless and unforgettable for sure!

Tadinya sempat putus asa, karena sampai minggu terakhir bulan Februari, saya belum juga sempat mengajak Snow lihat barongsai. Tapi ternyata kalau jodoh nggak akan ke mana. Pada akhir pekan terakhir bulan Februari, ketika saya, Mono dan Snow beserta kedua orangtua saya sedang jalan-jalan di Pacific Place, kebetulan sekali saat kami berniat pulang, ayah saya melihat papan di atriumnya yang bertuliskan jadwal pertunjukkan barongsai di mal tersebut yang ternyata hari itu juga pukul 18.45. Akhirnya kami nggak pulang dan rela menunggu dari jam 5 sore untuk nonton barongsai di sana dengan Snow. Hahaha!

1.jpg
Snow_Barongsai_Show.jpg

Lucunya, walaupun Snow belum tahu apa itu barongsai - lihat video atau fotonya pun belum pernah, dia semangat banget waktu dikasih tahu bahwa kami akan nonton barongsai! Gemas banget. "Mama, kita jangan sampai kelewatan nonton barongsainya, ya!" seru Snow yang nggak sabar saat menunggu jadwal pertunjukan barongsai. Sambil menunggu, kami duduk-duduk di supermarket di lantai bawah dulu supaya saya dapat menyuapi Snow makan.

Ketika akhirnya sudah jam 18.45, kami pun naik ke atrium untuk melihat apakah pertunjukan barongsai sudah akan dimulai. Dan di sana kami lihat, sedang ada pertunjukan musik dan serombongan pemain barongsai sedang bersiap-siap.

Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Show.jpg
Snow_Barongsai_Show.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg

Nggak lama kemudian, terdengar bunyi perkusi dimainkan dan pertunjukan barongsai pun dimulai.Reaksi pertama Snow saat melihat pertunjukan barongsai benar-benar menggemaskan!

Pas saya tanya, "Suka nggak lihat barongsai, Snow?"

Snow menjawab, "Iya, tapi berisik, ya, Mama!" sambil menutup kedua kupingnya. Hahaha!

"Mama, kalau ada Asa seru nonton barongsai, ya! Kalau nggak ada Asa nggak seru." ucapnya sambil tetap memperhatikan pertunjukan. Ternyata bocahnya kangen sama sepupunya, karena biasanya mereka selalu bareng kalau main di rumah dan jalan-jalan ke mal.

"Pokoknya nanti aku harus cerita sama Asa kalau aku nonton barongsai!" kira-kira begitu katanya dengan gerak-gerik super lucu. Kalau mau lihat sendiri cara Snow mengatakannya, intip highlight di akun Instagram saya yang berjudul Snow. It'll make your day!

Snow_Barongsai_PP.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg

Nggak cuma Snow yang senang lihat barongsai, saya juga senang, karena memang cuma setahun sekali lihat pertunjukannya. Bahkan dulu, pada periode pemerintahan Soeharto, pertunjukan barongsai sempat dilarang di Indonesia. Saya baru tahu bahwa Federasi Olahraga Barongsai Indonesia atau FOBI yang menaungi kesenian barongsai telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia KONI. Yang artinya, pemain barongsai bisa disebut sebagai atlet barongsai. Bangga juga karena ternyata barongsai Indonesia sudah beberapa kali meraih juara dunia.

Ada yang menceritakan bahwa asal-usul tarian barongsai yaitu tarian yang dilakukan masyarakat Tiongkok untuk mengusir monster, hantu, dan roh-roh jahat. Ada juga yang menceritakan bahwa barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang. Ada yang tahu mana yang benar? Penasaran! 

Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg
Snow_Barongsai_Pacific_Place.jpg

Grup pemain barongsai yang hari itu tampil di Pacific Place kalau tidak salah bernama Kwan Im Bio - saya menduga dari tulisan yang tercantum di seragam mereka. Meskipun pertunjukan barongsai kali ini bukan yang sampai meloncat-loncat di atas tonggak-tonggak, saya dan keluarga, khususnya Snow sangat terhibur. Terima kasih kepada grup Kwan Im Bio dan Pacific Place atas pertunjukan barongsainya yang jadi momen pertama nonton bareng Snow!

Kira-kira begitu pengalaman pertama kami sekeluarga nonton barongsai dengan Snow. Kalau kalian bagaimana pengalamannya dengan barongsai?

Snow_Barongsai_Show.jpg

SNOW STORY TIME: MORNINGS WITH MY GIRL

Sarapan_Sehat_Energen.jpg

Tahun lalu, awal-awal Snow mulai sekolah, saya suka kasihan lihat Snow di pagi hari. Masih dengan ekspresi muka bantal, masih ngantuk banget, tapi bocahnya sudah harus mandi untuk siap-siap ke sekolah. Nggak jarang kalau habis mandi dia cranky, lalu menolak kalau ditawarkan sarapan. Walaupun sudah dijelaskan bahwa sarapan itu penting supaya ia sehat dan nggak lapar di sekolah, anaknya tetap suka menolak. Tadinya saya pikir nggak apa-apa, daripada ujung-ujungnya merembet jadi nggak mau sekolah, biar Snow dibawakan bekal makanan saja. Mungkin memang dia belum lapar, dan kalau nanti dia lapar di sekolah, tinggal makan bekalnya.

Tapi, kemudian saya dapat kabar dari guru Snow di sekolah. Katanya, Snow suka mengeluh lapar di kelas dan minta makan saat jam pelajaran berlangsung. Di saat ia seharusnya konsentrasi mengikuti pelajaran, Snow sibuk merengek minta makan. Menurut gurunya, kalau Snow diperbolehkan makan sebelum waktu makan di sekolah, nanti ia tidak disiplin. Dan teman-temannya yang lain nanti mau ikut makan juga, sehingga jam pelajaran jadi terganggu. Benar banget, saya pikir. Memang sudah semestinya saya membiasakan Snow untuk sarapan, supaya badannya siap beraktivitas dan otaknya siap menerima pelajaran di sekolah.

Sejak mendengar itu dari guru Snow, saya pun mulai membiasakan Snow untuk sarapan dulu sebelum jam 9 pagi sebelum ia berangkat sekolah. Untungnya, karena Snow sempat diajak ngobrol dengan gurunya juga mengenai pentingnya sarapan sebelum ke sekolah, ia jadi lebih menurut ketika saya meminta Snow sarapan. Memang kadang anak kecil itu suka butuh pihak lain untuk meyakinkan bahwa apa yang dikasih tahu orangtuanya itu benar, ya! Habis diajak ngobrol itu sama gurunya, pulang dari sekolah malah Snow yang heboh kasih tahu ke saya, “Mama, kata guru aku, aku harus sarapan kalau pagi supaya nggak lapar. Supaya kuat!” Hahaha…

Sarapan_Sehat_Energen.jpg

Kalau waktunya lagi cukup, Snow suka sarapan nasi pakai telur dadar atau roti pakai selai kacang, lalu minum susu, dan cemil-cemil stroberi. Tapi kalau lagi buru-buru, andalan saya biasanya ENERGEN yang merupakan campuran susu dan sereal. Ini paling praktis, tapi tetap bergizi - ada kandungan susu, sereal, telur, plus kumpulan vitamin A, vitamin B1, vitamin B6, vitamin D, kalsium, asam folat dan mineral. Bikinnya gampang dan cepat, tinggal tuang bubuknya ke cangkir, seduh air panas, aduk, langsung siap! Kalaupun nggak sempat disantap di rumah, bisa dibawa di botol minum. Snow suka banget yang rasa vanila. Dan nggak cuma bisa untuk Snow, ENERGEN ini bisa untuk saya dan suami juga. Selain vanila, ada rasa cokelat, jagung, kacang hijau dan jahe. Saya pun jadi terbiasa menemani Snow sarapan ENERGEN di pagi hari, sambil ngobrol-ngobrol, bercanda, yang jadi quality time bareng sebelum ia berangkat sekolah.

Kalian sendiri bagaimana? Apakah sudah membiasakan anak untuk sarapan sehat setiap pagi? :)