SUMMER SNOW JONES, MY LITTLE REBEL

IMG_8606.JPG

Beberapa bulan terakhir, Snow sudah bisa marah-marah dan melawan. Galak banget pula! Suatu hari pas saya melarangnya mencolek krim dari seloyang kue yang masih mau disimpan, bocahnya mengamuk. Dia menangis, memukul saya (walaupun belum ada tenaganya), kemudian mengatakan ke saya dengan nada tinggi, “Aku nggak mau lagi main sama mama!” Tentu saja saya tidak mengambil hati perkataannya - namanya juga anak kecil.

Kemudian sempat juga Snow mencakar dada dan menendang kaki saya waktu saya berusaha menggendongnya ke mobil untuk berangkat sekolah sementara Snow maunya nonton kartun saja di rumah. Perilakunya disertai teriakan penuh amarah dan lempar-lempar tisu selama perjalanan di mobil.

Adegan Snow lempar-lempar benda pun nggak berhenti sampai di situ. Snow juga sempat melayangkan bukunya waktu sedang diajarkan membaca oleh ayahnya - Mono memang cukup galak sama Snow perihal belajar.

Saya sempat menceritakan ini ke Kania Anggiani, seorang teman yang sudah memiliki dua anak. Ia pun menceritakan bahwa anaknya juga sempat melalui fase ini, memukul atau menendang ketika melampiaskan kemarahan atau kesedihannya. Di akhir obrolan itu kami sepakat, kalau anak lagi marah atau menangis, daripada melarang mereka mengekspresikan kemarahannya atau kesedihannya dengan mengatakan “Nggak perlu pakai marah (atau menangis), ya..” yang mungkin akan bikin mereka lebih histeris, lebih baik didik mereka untuk boleh merasakannya dan menyalurkannya tapi dengan cara yang tidak destruktif. Ini adalah awal memperkenalkan mereka dengan kesadaran kesehatan mental, lho... Salah satu cara saya: ajak anak berpelukan. Misalnya, saya akan katakan ke Snow, “Snow marah (atau sedih), ya? Boleh kok, sini peluk mama, boleh sekuat-kuatnya sampai nggak marah (atau sedih), ya...” Biasanya Snow akan jadi lebih tenang. Anak kecil dan orang dewasa itu sama, sebagai manusia terkadang kita cuma butuh orang untuk bersandar ketika kita sedang marah atau sedih. Benar nggak? Kalau mood Snow sudah ceria lagi, baru saya ajak ngobrol membahas alasan keinginannya belum atau tidak dipenuhi.

Saya berbagi cerita ini untuk sesama orangtua, agar tidak merasa sendirian atau berkecil hati jika anak juga sedang melalui fase ini. Banyak sekali orangtua yang juga mengalami, jadi tidak perlu malu. Ini justru kesempatan kita sebagai orangtua untuk menunjukkan ke anak bahwa kita siap mendengarkan keluh kesah mereka - menjadi tempat mereka untuk bersandar.

Kalau kalian ada cerita nggak mengenai perilaku anak, ponakan atau adik yang mulai dapat melampiaskan kemarahannya? Do share your story on the comment section below! Jangan lupa tulis juga nama akun Instagram kalian. 5 orang yang ceritanya paling menarik akan saya beri hadiah berupa NYX Powder Puff Lippie. Saya akan umumkan pemenangnya di Instastory saya pada tanggal 5 Agustus 2018.

*Diperpanjang hingga tanggal 8 Agustus 2018 jam 12 malam. Pengumuman pemenang pada tanggal 9 Agustus 2018.

Habis sharing cerita kalian, kalau tertarik boleh baca rekomendasi artikel dari Woop.id berikut yang masih bersangkutan dengan cara bersikap ketika anak mulai melawan.

SUDAH TIDAK JAMANNYA LAGI MEMUKUL ANAK, SAATNYA MEMILIH DISIPLIN POSITIF