SOCIAL MEDIA: DOES SHARING REALLY MEANS CARING?

Cerita_Perempuan_Social_Media.jpg

Kata orang, SHARING IS CARING. Saya sendiri sering mengatakannya. Share your HAPPINESS on social media, karena kebahagiaan itu menular. Tapi bagaimana jika kebahagiaan yang orang perlihatkan di social media atau media daring justru menimbulkan tekanan pada orang yang melihatnya. Bagaimana jika media daring menyebabkan tekanan pada kita untuk menunjukkan bahwa kita 'bahagia'? Bagaimana jika bukannya merasa bahagia ketika melihat orang lain mengunduh momen bahagia mereka di media daring, kita justru merasa diri kita tidak bahagia, karena membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain? Bagaimana jika kita mengalami apa yang namanya FOMO alias Fear of Missing Out atau rasa takut 'tertinggal' oleh mereka yang aktif mengunduh momen kebahagiaan di media daring? Benar, cara untuk mengatasinya adalah dengan berpikir positif. Tapi apakah semudah itu? Sebagai seorang Content Creator yang banyak berbagi di media daring, saya ingin membahas hal ini.

Saking tidak sabarnya menunggu diskusi yang akan dilakukan Sabtu, 3 Februari 2018 di Kroma, pada acara yang akan diselenggarakan oleh Cerita Perempuan bertajuk Finding Self Worth in Hyperconnected, Social Media World, saya menuliskan hal-hal yang terlintas di kepala saya yang ingin saya utarakan nanti pada aplikasi Notes di ponsel. Tanpa saya sadari, saya telah menulis sebuah blog post.

Dalam dunia media daring saat ini, di mana sangat banyak terjadi aktivitas 'berbagi', menurut saya ada hal-hal yang harus terus kita peringatkan kepada diri kita sendiri. Berikut adalah hal-hal tersebut.

MENJADI CONTENT CREATOR, PENGGUNA AKTIF, PENGGUNA NON-AKTIF, BUKAN PENGGUNA

Di dunia media daring, kita sering menemui yang namanya Content Creator. Content Creator adalah seseorang yang aktif memproduksi dan mempublikasikan konten orisinil kepada penonton pada satu media atau lebih. Ini biasanya disebabkan karena mereka memiliki rasa cinta terhadap suatu bidang dan kegiatan memproduksi serta mempublikasikan konten yang terkait dengan bidang itu sendiri, dengan harapan konten yang dipublikasi dapat bermanfaat untuk orang lain. Gaya menyampaikan konten untuk setiap Content Creator berbeda, tergantung karakter masing-masing. Kita memiliki pilihan, menjadi seorang Content Creator yang memang pekerjaannya aktif di social media, hanya pengguna media daring yang aktif, pengguna media daring yang tidak aktif atau tidak menggunakan media daring sama sekali. Apapun pilihannya, tidak ada kewajiban untuk memikirkan apakah post kalian di media daring harus memiliki makna apa, pakai filter apa atau menulis teks apa untuk foto yang mau diunduh di media daring - semua itu tergantung selera masing-masing.

Tapi, kalian tahu nggak - jadi Content Creator atau tidak, jika kalian berbagi konten yang positif di media daring, kalian dapat berkontribusi menimbulkan perubahan positif pada lingkungan? Bukan tidak mungkin kalian dapat membantu orang lain mengatasi masalah mereka lewat konten yang kalian bagikan. Kemungkinan ini yang menjadi alasan mengapa banyak yang mengatakan SHARING IS CARING. Jika kalian memutuskan untuk berbagi konten di media daring, nasehat saya adalah: jangan melakukannya demi pengakuan orang lain atau likes. Jangan melakukannya demi tidak kalah dengan orang lain. Jangan melakukannya karena kalian mengalami FOMO atau Fear of Missing Out. Tapi, lakukanlah karena kalian tulus bersedia, menikmatinya dan memiliki niat yang baik. Ini cuma nasehat, lho! Keputusan dan konsekuensinya di tangan kalian sendiri.

PUNYA AKUN MEDIA DARING ATAU TIDAK?
If you think social media is not for you, you have a right to quit it, especially if you’re happier without it. Tapi saya mengingatkan saja untuk kalian yang sedang mencari pekerjaan, bahwa banyak perusahaan yang melihat akun media daring sebagai salah satu pertimbangan dalam merekrut karyawan. It's kinda tricky, if you're too active on social media, a company will think you'll be busy with your account and won't work effectively, but if you don't have a social media account they might think you're anti social, not up to date with things around you, and that you'll have a hard time keeping up with conversations about things that are happening on social media. Media daring memang bukan untuk semua orang. Tidak ada peraturan -paling tidak di Indonesia, yang menyatakan bahwa kita wajib memiliki akun media daring. Seperti halnya yoga, angkat beban atau apapun di dunia ini bukan untuk semua orang. Setiap orang punya pilihan. Bahkan menikah, mempunyai anak, itu bukan untuk semua orang. Hanya karena banyak orang menikah, mempunyai anak, memulai bisnis sendiri, membeli rumah, bukan berarti semua harus melakukan hal yang sama, kan? Jadi kenapa harus punya akun media daring hanya karena banyak orang yang memilikinya? Aplikasikanlah peraturan kalian sendiri mengenai hal ini dan jalani saja peraturan tersebut dengan bahagia.

IKUTI AKUN YANG TEPAT
Jika memutuskan untuk memiliki akun media daring, ingat bahwa kita dapat memilih siapa yang mau kalian ikuti di media daring. Jadi ikutilah akun yang mempublikasikan konten dengan nilai-nilai yang sama dengan nilai-nilai yang kalian percaya, yang memberikan pengaruh positif pada kalian. Kalian boleh saja batal mengikuti akun yang tidak memberikan pengaruh positif pada kalian, bahkan jika akun itu akun keluarga atau teman. Daripada stres sendiri, lebih baik tidak usah ikuti.

ATUR PERSPEKTIF KITA
Ketika melihat barang yang dikenakan atau aktivitas yang dilakukan seseorang pada konten yang ia unduh di media daring, hal yang penting bukan menebak harga atau biayanya, tapi proses kreatif dan idenya. Lalu cari tahu mana yang cocok untuk kita dan cara yang paling masuk akal untuk mewujudkannya untuk diri kita jika kita memang ingin. Mungkin saja kan kita lihat tas desainer mahal yang dikenakan orang - ini nggak di media daring saja, lalu kita pikir, “Ah, tas yang di rumah bisa di-DIY jadi begitu atau malah lebih keren!” It's all about the perspective we decide to choose.

TEMUKAN KUNCINYA

Ketika melihat post orang lain, jangan membandingkan hidup kita dengan hidup mereka - selebih atau sekurang apapun itu. Ingat bahwa apa yang kita lihat di akun media daring seseorang hanyalah sebagian dari kehidupan mereka. Dan umumnya hanya momen bahagia yang diperlihatkan, sementara kehidupan setiap orang pasti tidak luput dari masalah. Bukan berarti kebahagiaan yang diperlihatkan seseorang itu palsu, tapi memang yang namanya masalah tidak mudah untuk disampaikan, atau belum ingin disampaikan, atau terkadang dianggap tidak penting untuk diketahui orang lain karena ingin menyelesaikannya sendiri saja. And about happiness. Dengan banyaknya orang mengunduh momen bahagia, dapat membuat kita berpikir bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan memiliki momen bahagia yang serupa dengan apa yang diunduh mereka. Padahal tidak begitu. Kebahagiaan kita hanya kita yang dapat menentukan. Create your own happiness and make sure that it’s real. Don’t make up stuff, because you are only fooling yourself if you do that. Dan jangan terlalu keras pada diri kalian sendiri. Remember to love yourself and everything that you have. Luangkan waktu untuk diri kalian untuk mengenali siapa diri kalian sebenarnya, nilai-nilai apa yang kalian percaya, target hidup kalian yang sesungguhnya, agar kalian tidak mudah terombang-ambing oleh hempasan konten yang tidak ada habisnya di media daring.

MEMBATASI KONSUMSI MEDIA DARING
Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Jadi membatasi konsumsi media daring memang perlu. Tetapkan waktu berapa jam dalam 1 hari kalian boleh membuka media daring, and stick to it. Kalau merasa ini hal yang sulit, kalian dapat coba mencari kesibukan (olahraga, baca buku, bersih-bersih, dan sebagainya) supaya nggak bolak-balik cek media daring. Atau hapus aplikasi media daring untuk sementara dari ponsel, selamanya jika menurut kalian itu baik untuk kalian. Jika kalian ingin tahu apa yang sedang populer saat ini di dunia media daring, tinggal tanya orang-orang sekitar - yang mudah-mudahan menyampaikan hal yang benar. Dan hubungan kalian dengan keluarga dan teman baik tetap dapat kalian jaga dengan mengirim pesanmenelepon atau langsung bertemu dengan mereka - hal yang tetap perlu dilakukan meskipun aktif di media daring.

KELEBIHAN MEDIA DARING
Perlu diingat juga bahwa media daring sangat membantu orang dalam mencari inspirasi, mempromosikan keahlian ataupun bisnis mereka. Berkat media daring, sangat mudah menemukan orang atau pihak yang kita tertarik untuk bekerjasama, untuk kita pakai jasanya, atau yang menjual produk yang kita cari. Dari media daring, kita dapat bertemu dengan teman-teman baru, bahkan jodoh (LOL!). Selain itu, saya yakin kalian dapat menyebutkan banyak kemudahan dalam mencari sesuatu di media daring. So it's not really that negative is it?

BERPIKIR POSITIF

Kembali lagi ke sini. Berpikir positif. Apakah sesulit itu? Hargailah hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya: kesehatan, punya waktu untuk keluarga, punya teman, punya kegemaran. Aduh, banyak banget hal dalam hidup ini yang patut membuat kita merasa bahagia dan bersyukur! Saya yakin kalian dapat menyebutkan banyak hal. Dan salah satu wujud bersyukur adalah terus semangat dalam memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang kita miliki sekarang.

Sejauh ini, itu hal-hal yang terlintas di kepala saya. Jika kalian ingin, lagi-lagi, berbagi pengalaman kalian, tips atau mau bertanya menyangkut topik ini, kalian dapat menuliskannya di bagian komentar. Yang tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai topik ini, datang saja ke acara Cerita Perempuan bertajuk Finding Self Worth in Hyperconnected, Social Media World hari Sabtu, 3 Februari 2018 di Kroma pukul 10 pagi sampai 1 siang. Kalian dapat mendaftarkan diri dengan klik di SINI.

Baca juga artikel berjudul HERAN: DIA KOK BISA BELI INI-ITU DAN LIBURAN TERUS, YA? SEMENTARA SAYA... MEH yang dimuat di Woop.id yang membahas mengenai tips untuk mengantisipasi terjadinya emosi-emosi negatif yang muncul dikarenakan apa yang diunduh orang-orang di media daring. Read it right HERE.