SNOW STORY TIME: FEAR VS FAITH

Summer_Snow_Jones.jpg

Kemarin sore, kebetulan saya baru turun dari kantor yang berada pada paviliun untuk masuk ke rumah ketika melihat dari kejauhan Snow sedang berdiri sendirian di pinggir kolam renang yang dalam di rumah.

Jantung rasanya mau copot!

Saya langsung berseru ke arah Snow, memintanya masuk ke dalam rumah dan saya bergegas mencari Mbak Sri yang biasa ditugaskan menjaga Snow. Ternyata saat itu Mbak Sri sedang ke atas, sementara Mbak Iit yang ia minta menggantikan menjaga sebentar bisa-bisanya menganggap enteng situasi, ia ke toilet meninggalkan Snow dan temannya Emily (4 tahun) bermain tanpa ada yang mengawasi.

Apa jadinya kalau tadi Snow iseng lompat ke kolam dalam yang suka ia lakukan ketika sedang berenang ditemani orang dewasa? Bedanya tadi ia sedang tidak mengenakan rompi pelampungnya. Mempertanyakan hal tersebut saja saya gemetar, hati saya rasanya hancur berkeping-keping.

Namun saya bersyukur tadi saya ada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, sehingga tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Snow.

Saya sudah mengutarakan ke Mbak Sri dan Mbak Iit bahwa saya tidak mau mereka mengulangi kesalahan yang sama - meninggalkan Snow sendiri tanpa pengawasan. Mereka pun sudah meminta maaf. Snow pun sudah saya beritahu berkali-kali agar tidak bermain di dekat kolam renang ketika tidak mengenakan pelampung dan tidak ada orang dewasa yang menemani. Namun hati saya rasanya masih hancur. Antara menyalahkan diri sendiri karena mempercayakan Snow dijaga orang lain sementara saya bekerja sehingga nyaris terjadi hal buruk kepada Snow, kesal terhadap Mbak Sri dan Mbak Iit dan takut akan berbagai kemungkinan terjadinya hal buruk yang dapat menimpa Snow ketika orang yang saya percaya untuk menjaganya lalai.

Sungguh, saat-saat seperti ini yang terkadang membuat saya merasa mungkin seharusnya saya jauh lebih posesif dan protektif sebagai seorang ibu. Membawa anak ke mana pun saya pergi. Tidak pernah meninggalkan anak barang sedetik pun di bawah pengawasan orang lain.

Namun, cepat atau lambat, mau tidak mau, akan ada waktunya saya harus percaya dan yakin, bahwa putri kecil saya akan baik-baik saja meskipun saya tidak di berada di sisinya. Kejadian beberapa detik yang saya ceritakan tadi cukup membuat saya khawatir seharian, dan saya rasa akan berlanjut terus. Sesuai ucapan Elizabeth Stone - seorang penulis buku berjudul A Boy I Once Knew, "Making the decision to have a child - it is momentous. It is to decide forever to have your heart go walking around outside your body."

Semoga anak-anak kita selalu terlindungi dari hal-hal buruk, di mana pun dan kapan pun.