NIRMALA

Nirmala/nir·ma·la/ kl a tanpa cacat cela; bersih; suci; tidak bernoda

Seberapa banyak orang yang dapat menerima kita apa adanya? Seberapa banyak orang yang dapat kita percaya? Seberapa tulus rasa sayang kita kepada seseorang hingga kita dapat menerima mereka apa adanya, dan memaafkan kesalahan mereka sesakit apa pun mereka pernah melukai hati kita secara sengaja maupun tidak sengaja? Seberapa erat hubungan kita dengan seseorang sampai setelah mengetahui kebaikan dan keburukan masing-masing, kita masih saling mendukung satu sama lain?

Petra_Sihombing_Nirmala.jpg

Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang terbersit dalam pikiran saya ketika membaca serentet post dengan hashtag #nirmala #katanirmala di Instagram salah satu teman saya dan Mono yang sangat kami sayangi, Petra Sihombing beberapa minggu lalu. Petra mengunduh serangkaian post tersebut beberapa hari menjelang pertunjukan yang ia gelar dalam rangka merilis single terbarunya Nirmala. Mengutip tulisan dalam sebuah artikel yang saya baca, lirik lagu Nirmala sendiri seperti menceritakan tentang seseorang yang menganggap bahwa hanya orang terdekatnya lah yang yang paling mengerti dirinya dan mampu meredamkannya, bahkan dunia pun nggak bisa memahaminya. Orang terdekatnya ini seperti nggak peduli akan keburukan yang dimiliki seseorang tersebut. Lewat akun Instagramnya, Petra memberitahukan bahwa lagu ini didedikasikan untuk ibunya. Mono turut membantu memproduksi lagu ini bersama Petra dan adiknya, Ben Sihombing. Otomatis, saat Petra menggelar showcase Nirmala, saya dan Mono turut hadir memberikan dukungan, menyaksikan pertunjukan di mana Petra membawakan hampir semua dari 11 lagu yang akan ada pada album terbarunya yang akan dirilis bulan Desember nanti.

P1300535blog10.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg

Dalam salah satu post yang Petra unduh tadi, salah satunya menceritakan hubungan pertemanan Petra dengan Mono pada caption-nya. Bunyinya seperti ini.

"Sekitar 3-4 tahun yang lalu, @mononeurotic bilang di depan muka gue kalo musik gue jelek. Dia pikir setelah hari itu kita gak akan temenan, tapi kenyataannya sampe sekarang deket banget. Salah satu orang yang gue anggap keluarga. Gue mendingan punya temen yang di depan gue ngomong gak suka daripada ngomongin gue di belakang."

Hahaha! Gemas bacanya. Karena waktu itu Mono sendiri sempat cerita ke saya soal percakapan ia dan Petra malam itu. Memang Mono itu kalau komentar apa adanya banget, nggak pakai saringan. Jujur. Tapi justru itu yang saya suka darinya. Mungkin karena saya juga seperti itu, kalau saya merasa ada yang tidak disukai dari seseorang, ya, saya akan mengatakannya. Sayangnya kalau teman perempuan saya kebanyakan nggak sepintar Petra, jadi begitu saya jujur mengutarakan komentar mengenai hal yang saya tidak sukai dari mereka ternyata mereka nggak terima, kemudian menjauh. Untung saya masih punya Mono. Hahahaha!

P1300597blog5.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg
P1300593 copy.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg

Kembali lagi ke showcase Nirmala, saya terharu ketika Tante Nova, ibunda dari Petra, berdiri mengucapkan pesannya kepada Petra di tengah-tengah pertunjukannya. Apa kata-katanya? Karena saya nggak mencatat, saya sudah lupa. Hehehe! Tapi mengingat isi caption Petra ketika mengunduh foto sang ibu dalam rangkaian post menjelang showcase-nya, hati rasanya terenyuh. Ini adalah tulisan Petra pada caption post tersebut.

"Nyokap gue @nova_3011 adalah orang yang terkuat yang gue tau. Setelah kejadian yang menghancurkan dia, dia bisa pelan-pelan recover. Gue melihat prosesnya setiap hari di rumah. Dari usahanya bunuh diri sampai sekarang bisa ngomong di mimbar di depan banyak orang tentang masalahnya, itu nggak terjadi dalam semalam. That's the thing about family. Lo nggak bisa pilih-pilih orangnya. You just have to deal with it. Ada yang bilang keluarga adalah ujian yang paling berat. Iya memang. Karena di saat lo merasa nggak cocok ya harus lo cocok-cocokin. Di saat lo nggak suka ya lo harus cari cara gimana biar suka. Gue dan nyokap ngga selalu sepaham, kita sering berantem. Gue cuma percaya sama Tuhan yang memberikan gue keluarga ini, dan gue percaya pasti ada baiknya di balik ini semua. Broken home itu pilihan. Itu pilihan lo mau beresin masalah lo apa nggak. Dengan tulisan ini gue mau bilang terima kasih buat nyokap gue yang selalu nguatin kita anak-anak, dan kita selalu ada buat mama. Love you ma."
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg

Sebelumnya, Petra juga sempat mengunduh post foto ia dan ayahnya, dengan caption seperti ini.

"@frankysihombingz adalah sosok ayah terbaik buat gue. Dari gue lahir sampe SMP kita sekeluarga selalu ngontrak rumah dan pindah setiap dua tahun karena kondisi finansial. Gilanya bokap gue, selalu ada 5-10 orang yang dia tampung di rumah kontrakan kita. Ada yang abis perang di Ambon, ada yang ex pemakai, ada yang preman, dan ada juga yang emang gak punya rumah aja. Dia kasih tempat tinggal, kasih makan. Dari kehilangan HP sampe kehilangan motor. Bokap gue cuma senyum dan berharap orang-orang yang tinggal di situ bisa jadi manusia yang lebih baik. Gue belajar banget tentang memberi dari bokap. "Memberi itu nggak memberi kalau rasanya nggak sakit," katanya. Lalu bertahun-tahun kita lewati sampai akhirnya terjadilah perceraian bokap dan nyokap gue. Shit happens. Itu doang yang ada di benak gue. Bokap gue bukan nirmala. Dia nggak sempurna, dia manusia. Orang cenderung lebih tertarik dengan hal negatif dibanding yang positif. Dari 9 hal baik, kemungkinan besar 1 hal buruk bisa melalaikan penilaian kita terhadap sesuatu. Atau seseorang. Gue siapa bisa menghakimi orang lain? Manusia bisa mengampuni, karena nggak ada satupun manusia yang sempurna. Satu hal yang gue tau pasti adalah, bokap gue sempurna di mata gue. Thank you pa buat semuanya. Love you.

Saya tidak mengalami perceraian orangtua seperti yang dialami Petra, tapi kurang lebih mengerti apa yang disampaikan Petra. Keluarga saya tidak luput dari masalah, saya rasa tidak ada keluarga yang tidak memiliki masalah, tidak ada keluarga yang tidak pernah mengalami perselisihan antara anggotanya. Tapi apapun yang terjadi, mengampuni satu sama lain bukanlah hal yang tidak mungkin. Seperti kata Petra, ngga ada satupun manusia yang sempurna, jadi tidak perlu menghakimi, dan memang lebih baik mengampuni. Meskipun setiap orang butuh proses dan jangka waktu yang berbeda untuk mengampuni, mengampuni itu dapat dilakukan. Menerima satu sama lain dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, dapat dilakukan.

Petra_Sihombing_Nirmala.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg

Dari tadi saya lebih banyak membahas soal post Petra, lagu-lagu yang dibawakan di showcase Nirmala malah belum dibahas. Hahaha! Soalnya kalau soal musik saya nggak terlalu mengerti bagaimana menjelaskannya. Kalau untuk saya musik itu cuma ada yang enak dan nggak enak. Yang menurut saya enak, belum tentu enak untuk orang lain karena selera orang berbeda-beda. Yang pasti, saya senang dengan adanya perubahan pada musik Petra, yang di album sebelumnya lagu-lagunya mellow banget, sekarang lagu-lagu barunya jadi lebih seru bagi saya. Kalau mau, coba dengarkan sendiri Nirmala di sini. Dan saat showcase, Petra membawakan sendiri lagu-lagu barunya. Benar-benar sendiri di atas panggung, tanpa ada band yang main musik bersamanya. Hebat!

P1300606blog1.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg
Petra_Sihombing_Nirmala.jpg

Saya melihat banyak sekali wajah yang mengekspresikan kebanggaan mereka atas penampilan Petra pada malam showcase Nirmala. Bukan hanya keluarganya, calon istri dan mertuanya, pihak-pihak yang membantu Petra memproduksi lagu-lagu di albumnya, tapi energi seisi auditorium Shoemaker Studio terasa sangat positif mendukung Petra. Ini bukan hal yang mengherankan. Menurut saya, Petra memang pantas mendapatkan dukungan dari banyak orang, tidak hanya karena karyanya, tapi karena kebaikan dan kerendahan hatinya. Mono and I truly love you, Petra, and hope that your journey with music and your loved ones, especially with Firrina in the future, will bring you more and more happiness. We will love you, through all the goods and the bads. Cieee...

P1300623 copy.jpg