SNOW STORY TIME: 5 AM IN THE MORNING

"Hai sayang..." bisik saya ketika sadar sosok kecil di sebelah saya terbangun dari tidurnya.

Her sleepy face looked so beautiful, even in the darkness of our room. My beautiful little angel.

Sebelum Snow tertidur jam 6 sore tadi, kamar kami habis dilanda 'badai' tantrumnya.

Ada 3 faktor yang mungkin menyebabkan Snow super cranky sore itu, yaitu berikut ini.

1. Ia mengantuk karena belum tidur siang sejak bangun pukul 8 pagi. Saya sudah mencoba mengajaknya tidur sejak jam 1 siang, tapi ia menolak terus dan selalu kabur setiap saya berusaha peluk di ranjang agar tertidur.

2. Tubuhnya sedang tidak fit. Ia beberapa kali mengeluh tenggorokannya sakit. Snow memang sedang pilek dan batik. Untungnya badannya tidak demam dan lehernya tidak panas - artinya radang tenggorokannya tidak parah. Sejak kemarin kami sudah memberikannya obat yang diresepkan adik ipar saya yang seorang dokter.

3.  Ia kesal karena diisengi Astrid, tantenya. She has this love-hate relationship with her aunt. Dan sore itu, ketika Astrid memutuskan untuk menggoda Snow dengan memeluk saya dan mengatakan padanya, "Onci dong, sama Mama.", it was the boiling point for Snow.

Ia menangis histeris sambil berulang kali merengek, "Onci di rumah aja!" yang maksudnya ia ingin Astrid keluar dari kamar kami dan masuk ke kamarnya sendiri saja dan jangan keluar-keluar. Saya pun meminta Astrid untuk mengalah dulu saja, supaya Snow tenang dulu sehingga saya dapat mengajaknya makan malam sebelum menidurkannya.

Beberapa menit setelah Astrid pergi, Snow masih terus-menerus bergumam, "Onci di rumah aja." sambil menangis. Ia baru terlihat agak tenang 10 menit kemudian, dan pada saat itu Snow mengiyakan ketika saya menawarkannya makan malam.

Sayangnya, begitu Mbak Srie mengantarkan makanan Snow ke kamar dan saya menyuapkan makanan pada Snow, ia menolak.

 "Nggak mau." kata Snow, dengan wajah bersungut.

"Lho, kan tadi Kakak bilang mau makan. Ayo dong, Kak, kalau nggak makan nanti sakit perut, nggak sembuh-sembuh." ucap saya membujuknya.

 "Onci di kamar aja. Onci di kamar aja." Snow kembali mengucapkan berulang-ulang.

"Oncinya udah keluar kan, udah di kamar, kok." kata saya, berusaha meyakinkan Snow. Snow kembali mengulang kata-katanya tadi.

"Kakak mau lihat Onci di kamar?" tanya saya.  Snow mengangguk-anggukkan kepalanya.

It was a wrong move offering her that. Karena saat saya bawa Snow ke kamar Astrid, ternyata Astrid tidak di sana, dan Snow pun menangis lagi sambil terus mengatakan, "Onci di kamar aja."

Great!

 "Kakak makan dulu deh, ya..." kata saya pada Snow sambil bergegas menggendong gadis kecil seberat 12kg itu kembali ke kamar kami - karena ia nggak mau jalan sendiri saat itu.

"Onci di kamar aja."  Snow terisak sambil menggeliatkan tubuhnya di gendongan saya, mengisyaratkan ingin turun ke bawah.

"Ya udah, coba kita lihat Onci di mana, ya." ujar saya sambil menuruni tangga sambil tetap menggendong Snow, lalu berjalan menuju kamar mertua saya. Kami menemukan Astrid di sana dan Snow pun mulai lagi dengan, "Onci di rumah aja."

Akhirnya Astrid kembali ke kamarnya demi 'menyenangkan' Snow.  Saya juga kembali membawa Snow ke kamar untuk menyuapinya makan.  Tapi tetap, Snow menangis dan menolak untuk makan. Kali ini ia merengek, "Mau main-main sama Dedek."

Habis sudah kesabaran saya. Sepertinya Snow hanya mencari-cari alasan untuk tidak makan.

"No! Kakak makan dulu, baru boleh main sama Dedek. Kalau nggak mau makan nggak boleh keluar kamar!" 

"Iya..." jawab Snow.

Tapi setiap saya menyodorkan sendok berisi makanan, Snow malah menangis.

Akhirnya saya meletakkan makanan Snow di meja, menggendong Snow, membawanya ke ranjang, kemudian memeluknya sambil bersandar pada bantal. Lumayan pegal-pegal tubuh ini setelah menggendong Snow naik turun tangga tadi. Saya mendekap Snow sambil membelai-belai alisnya menggunakan ibu jari saya. Biasanya ia cepat tidur kalau saya melakukan ini, dan benar saja, dalam 10 menit Snow yang tadinya masih terisak-isak kini sudah tertidur.

"Hai sayang..." bisik saya ketika sadar sosok kecil di sebelah saya terbangun dari tidurnya.

Her sleepy face looked so beautifuleven in the darkness of our roomMy beautiful little angel.

Snow tersenyum begitu melihat wajah saya. Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Saat itu saya belum tidur karena habis lembur dan lanjut mengobrol dengan Mono yang baru kembali dari bekerja di studio.

Karena Snow tadi tertidur jam 7 sebelum sempat makan malam, saya pun menawarkannya makan. And she said yes, jadi saya turun ke bawah untuk mengambilkan makanan. 

Sambil menyuapi Snow mayan sendok demi sendok, saya tersenyum memandang Snow. Untung mood-nya sudah lebih baik, dalam hati saya berucap. Tiba-tiba Snow mengatakan sesuatu.

"Bosen..." kata Snow sambil memandang ke bawah.

"Bosen sama siapa?" tanya Mono.

"Mama." jawab Snow.

Saya dan Mono hanya bisa saling memandang sambil mengernyitkan dahi.